<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rakyat Belajar</title>
	<atom:link href="http://airlangga25.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://airlangga25.wordpress.com</link>
	<description>jadi insinyur nggak harus mahal</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 12:22:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='airlangga25.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rakyat Belajar</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://airlangga25.wordpress.com/osd.xml" title="Rakyat Belajar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://airlangga25.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Analisa Transien Rangkaian RC</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/12/01/analisa-transien-rangkaian-rc/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/12/01/analisa-transien-rangkaian-rc/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 07:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[charge]]></category>
		<category><![CDATA[discharge]]></category>
		<category><![CDATA[kapasitor]]></category>
		<category><![CDATA[transien]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1125</guid>
		<description><![CDATA[Transient listrik Pada bagian ini, kita akan membahas tanggapan dari kapasitor dan induktor terhadap perubahan tegangan DC secara tiba-tiba (disebut tegangan transient), ketika dihubungkan seri dengan sebuah kapasitor. Tidak seperti resistor, yang akan menanggapi sumber tegangan saat itu juga, kapasitor dan induktor bereaksi dalam selang waktu tertentu karena mereka menyerap dan melepaskan energi. Respon transient [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1125&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Transient listrik</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada bagian ini, kita akan membahas tanggapan dari kapasitor dan induktor terhadap perubahan tegangan DC secara tiba-tiba (disebut tegangan transient), ketika dihubungkan seri dengan sebuah kapasitor. Tidak seperti resistor, yang akan menanggapi sumber tegangan saat itu juga, kapasitor dan induktor bereaksi dalam selang waktu tertentu karena mereka menyerap dan melepaskan energi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Respon transient kapasitor</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Karena kapasitor menyimpan energi dalam bentuk medan listrik, kapasitor cenderung beraksi seperti baterai sekunder kecil, yang mampu menyimpan dan melepas energi listrik. Kapasitor yang kosong sama sekali akan mempertahankan tegangan pada terminalnya pada nol volt, sedangkan kapasitor yang berisi/bermuatan akan mempertahankan nilai tegangan tertentu yang bernilai konstan, sama seperti pada baterai. Ketika kapasitor diletakkan pada rangkaian yang memiliki sumber tegangan, kapasitor akan menyerap energi dari sumber tegangan ini, sama seperti baterai sekunder yang sedang di charge saat dihubungkan pada sumber listrik. Kapasitor yang benar-benar kosong, memiliki tegangan nol volt pada kedua terminalnya, sehingga pada kondisi awal ini, kapasitor berkelakuan seperti short circuit ketika dihubungkan pada sumber tegangan, lalu mengmbil arus maksimum sehingga ia dapat memulai proses charge. Dalam selang waktu tertentu, tegangan pada terminal kapsitor naik, naik, dan naik mendekati nilai tegangan dari sumber, dan dalam selang waktu itu pula, arus yang mengalir pada rangkaian semakin berkurang. Saat kapasitor sudah mencapai level nilai tegangan tertinggi, yaitu tegangannya sama dengan tegangan sumber, kapasitor akan berhenti mengambil arus dari sumber, dan akan berkelakuan seperti open circuit.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1125"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-1.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1189" title="transient 1" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-1.jpg?w=524&#038;h=326" alt="" width="524" height="326" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika saklar pertama kali ditutup, tegangan pada kapasitor (awalnya kapasitor benar-benar kosong/sama sekali tidak menyimpan energi) adalah nol volt; sehingga pada kondisi awal ini,kapasitor berkelakuan seperti short circuit. Tegangan kapasitor akan naik dan naik untuk mencapai nilai tegangan sama seperti pada sumber dalam selang waktu tertentu. Saat nilai tegangan pada kapasitor sudah sama dengan nilai tegangan sumber, kapasitor berhenti mengambil arus, dan ia akan berkelakuan seperti open circuit. Sedangkan nilai arus yang mengalir pada rangkaian tersebut dihitung dari beda tegangan antara baterai dengan kapasitor, dibagi dengan nilai resistansi 10 kΩ  (ingat hukum Ohm). Saat tegangan pada kapasitor sudah sama dengan tegangan sumber, arus yang mengaliri rangkaian tersebut adalah nol ampere. Berdasarkan rangkaian di atas, setelah tegangan pada kapasitor mencapai 15 volt, arus yang mengalir akan sama dengan nol ampere. Kita lihat bagaimana nilai yang sebenarnya, bila diplot pada sebuah grafik:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1190" title="transient 5" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-5.jpg?w=614&#038;h=383" alt="" width="614" height="383" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tegangan kapasitor naik menuju angka 15 volt sedangkan arusnya turun menuju angka nol ampere pada selang waktu itu, dalam matematika kedua grafik ini disebut asimptot : yaitu kedua nilai (dalam kasus ini adalah tegangan dan arus) akan “berusaha” mencapai suatu nilai akhir, semakin mendekat dan mendekat seiring berjalannya waktu, tetapi hingga waktu 1 jam, 1 tahun, 1 abad bahkan hingga kiamat nilainya tidak akan pernah mencapai nilai akhir yang dituju itu (hanya mendekati saja). Pada rangkaian ini, nilai tegangan pada kapasitor akan naik dan naik untuk mencapai angka 15 volt, tetapi tegangan kapsitor ini tidak akan pernah mencapai 15 volt, dengan kata lain hanya mendekati saja. Begitu pula dengan arus yang mengalir pada rangkaian ini, arusnya akan turun dan turun berusaha mencapai nol ampere, tetapi hingga kapanpun nilainya tidak akan  pernah mencapai nilai tepat nol ampere, dengan kata lain, hanya mendekati saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita coba simulasikan rangkaian RC ini dengan Orcad PSPICE. Pertama-tama masukkan semua komponen-komponen yaitu R, C, dan sumber tegangan DC serta ground. Ada satu tambahan lagi yaitu saklar. Pada contoh rangkaian di atas, awalnya saklar dalam kondisi terbuka, kemudian ditutup. Komponen saklar seperti ini pada PSPice adalah <strong>sw_tClose.</strong> Yaitu saklar saat t &lt; 0 dalam kondisi terbuka, tetapi saat t&gt;=0, saklar dalam kondisi tertutup.Berikut ini adalah cara menyusunnya</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1191" title="transient 2" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-2.jpg?w=614&#038;h=345" alt="" width="614" height="345" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kita tidak serta merta langsung dapat mensimulasikan rangkaian ini (seperti saat mensimulasikan rangkaian resistif). Karena pada rangkaian RC kita juga “bermain” variabel waktu, maka kita harus men-setting variabel waktu ini. Klik analysis, pilih setup, beri centang pada pilihan transient, lalu klik pilihan transient. Maka akan mucul dialog box.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1192" title="transient 3" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-3.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Masukkan nilai 1ms pada kolom print step. Print step adalah satu titik yang akan di-tracking per satuan waktu saat menampilkan hasil dalam bentuk grafik. Masukkan nilai 10s pada kolom final time. Ini adalah nilai waktu maksimum (biasanya dalam sumbu horisontal/axis) yang akan ditampilkan. Beri centang pada skip initial transient solution dan klik OK. Lalu klik close.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1193" title="transient 4" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-4.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Jalankan rangkaian ini dengan cara menekan tombol F11 (simulate). Setelah anda menjalankan simulasi ini, maka akan muncul jendela windows baru pada komputer anda yaitu PSpice A/D Student. Bukalah jendela windows ini. Klik trace, pilih add trace. Maka akan muncul dialog box yang berisi bermacam-macam variabel dari rangkaian di atas yang ingin kita lihat nilai/angkanya dalam variabel waktu dari 0 sekon hingga 10 sekon. Pilihlah variabel <strong>V(C1:2) </strong>untuk melihat nilai tegangan pada kapasitor dalam selang waktu dari 0s hingga 10s.Klik OK. Lalu klik lagi trace, pilih add trace. Pilih variabel V(V3:+) (kalau tidak ada pilih V(V1:+)) untuk melihat grafik dari nilai sumber tegangan 15 volt yang diplot terhadap waktu. Hasilnya adalah seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1190" title="transient 5" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-5.jpg?w=614&#038;h=383" alt="" width="614" height="383" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Garis warna hijau adalah nilai tegangan pada kapasitor sedangkan garis warna merah adalah nilai dari sumber tegangan 15V. Perhatikan bahwa pada saat saklar mulai ditutup pada saat t=0, nilai tegangan pada kapasitor mulai merangkak naik hingga sekitar detik 6-10 sekon, nilainya sekitar 15 V (sama seperti nilai sumber tegangan). Sedangkan nilai dari sumber tegangan adalah tetap. Dari 0s hingga 10s, nilai tegangannya tetap sebesar 15 V. Klik tulisan berwana merah V(V3:+) di bawah sumbu horisontal, lalu tekan tombol delete. Begitu juga tulisan  warna hijau <strong>V(C1:2) </strong>klik dan delete. Karena sekarang kita ingin melihat besaran arus (bukan tegangan). Kita ingin mengetahui nilai arus yang mengaliri rangkaian itu. Karena rangkaian ini seri, maka nilai arus yang mengaliri sumber 15V sama dengan arus yang mengaliri resistor dan kapasitor. Klik trace, pilih add trace, lalu pada kolom trace expression ketikkan -I(C1). Kenapa dikasih tanda minus? Karena apabila tidak diberi tanda minus, berarti arah arusnya mengalir dari kutub negatif sumber ke kutub positif sumber. Maka dari itu diberi tanda negatif, supaya arah arusnya dari positif ke negatif (arah arus konvensional). Akan muncul grafik dari nilai arus seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1195" title="transient 6" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-6.jpg?w=614&#038;h=383" alt="" width="614" height="383" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan bahwa saat pertama kali saklar ditutup pada saat t=0s, nilai arusnya langsung maksimum yaitu 1.5 mA (atau 1500 µA). Tetapi nilai arusnya semakin mengecil hingga sekitar t=10s, nilainya sudah mendekati 0 A. Berikut ini nilai-nilai dari variabel tegangan pada sumber, tegangan pada kapasitor, dan arus pada kapasitor secara detail dalam selang 0s hingga 10s.</p>
<p style="text-align:justify;">Time | Battery | Capacitor | Current |</p>
<p style="text-align:justify;">|(seconds) | voltage | voltage | |</p>
<p style="text-align:justify;">|&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-|</p>
<p style="text-align:justify;">| 0  | 15 V | 0 V | 1500 uA |</p>
<p style="text-align:justify;">|0.5 | 15 V | 5.902 V | 909.8 uA |</p>
<p style="text-align:justify;">|&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-|</p>
<p style="text-align:justify;">| 1 | 15 V | 9.482 V | 551.8 uA |</p>
<p style="text-align:justify;">|&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-|</p>
<p style="text-align:justify;">| 2 | 15 V | 12.970 V | 203.0 uA |</p>
<p style="text-align:justify;">|&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-|</p>
<p style="text-align:justify;">| 3 | 15 V | 14.253 V | 74.68 uA |</p>
<p style="text-align:justify;">|&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-|</p>
<p style="text-align:justify;">| 4 | 15 V | 14.725 V | 27.47 uA |</p>
<p style="text-align:justify;">|&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-|</p>
<p style="text-align:justify;">| 5 | 15 V | 14.899 V | 10.11 uA |</p>
<p style="text-align:justify;">|&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-|</p>
<p style="text-align:justify;">| 6 | 15 V | 14.963 V | 3.718 uA |</p>
<p style="text-align:justify;">|&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-|</p>
<p style="text-align:justify;">| 10 | 15 V | 14.999 V | 0.068 uA |</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Respon Alami (Rangkaian Bebas Sumber) pada rangkaian RC</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bila pada t&gt;0, tidak ada sumber arus ataupun sumber tegangan (bebas sumber), maka rangkaian listrik hanya dipengaruhi oleh kapasitor (atau induktor) yang akan memberikan respon alami.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-1.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1196" title="first order 1" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-1.jpg?w=431&#038;h=312" alt="" width="431" height="312" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat t=0, kondisi saklar menghubungkan C dan R, jika kondisi itu berada dalam kondisi steady state (posisi saklar tidak berubah hingga t = tak hingga), maka :</p>
<p style="text-align:justify;">Vc (0) = V0</p>
<p style="text-align:justify;">Asumsi : kapasitor di-charge sampai tegangannya sama dengan V0</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat t=0, kondisi saklar berada seperti pada gambar di bawah ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-2.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1197" title="first order 2" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-2.jpg?w=234&#038;h=318" alt="" width="234" height="318" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Analisa untukmenentukan v(t) untuk t&gt;0:</p>
<p style="text-align:justify;">Terapkan KVL pada loop tersebut</p>
<p style="text-align:justify;">∑v = 0</p>
<p style="text-align:justify;">i(t) R + v<sub>c</sub> (t) = 0</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-5.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1198" title="first order 5" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-5.jpg?w=310&#038;h=285" alt="" width="310" height="285" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Persamaan diferensial ini dapat disederhanakan lagi menjadi</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-6.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1199" title="first order 6" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-6.jpg?w=245&#038;h=197" alt="" width="245" height="197" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-7.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1200" title="first order 7" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-7.jpg?w=250&#038;h=346" alt="" width="250" height="346" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Daya pada resistor :</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-10.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1201" title="first order 10" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-10.jpg?w=275&#038;h=91" alt="" width="275" height="91" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-11.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1202" title="first order 11" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-11.jpg?w=394&#038;h=214" alt="" width="394" height="214" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Respon paksa (rangkaian dengan sumber) pada rangkaian RC</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-14.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1203" title="first order 14" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-14.jpg?w=448&#038;h=226" alt="" width="448" height="226" /></a><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-15.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1204" title="first order 15" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-15.jpg?w=336&#038;h=190" alt="" width="336" height="190" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Menentukan nilai v<strong><sub>c</sub></strong>(t) pada saat saklar diubah (t&gt;0)</p>
<p style="text-align:justify;">saat t=0</p>
<p style="text-align:justify;">v<strong><sub>c</sub></strong>(0) = V0</p>
<p style="text-align:justify;">Saat kondisi t&gt;0, rangkaiannya seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-16.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1208" title="first order 16" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-16.jpg?w=347&#038;h=243" alt="" width="347" height="243" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">dengan analisa node</p>
<p style="text-align:justify;">∑i<strong><sub>masuk</sub></strong> = ∑i<strong><sub>keluar</sub></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-17.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1209" title="first order 17" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-17.jpg?w=298&#038;h=245" alt="" width="298" height="245" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Persamaan diferensial dari rangkaian RC ini dapat disederhanakan menjadi</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-18.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1210" title="first order 18" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-18.jpg?w=289&#038;h=465" alt="" width="289" height="465" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">di mana:</p>
<p style="text-align:justify;">Ae<strong><sup>-t/RC</sup></strong> adalah respon alami</p>
<p style="text-align:justify;">I<strong><sub>0</sub></strong>R adalah respon paksa</p>
<p style="text-align:justify;">pada saat t=0, maka v<strong><sub>c</sub></strong>(0) = V0, sehingga:</p>
<p style="text-align:justify;">v<strong><sub>c</sub></strong>(t) = Ae-t/RC + I0R</p>
<p style="text-align:justify;">V<strong><sub>0</sub></strong> = A + I<strong><sub>0</sub></strong>R</p>
<p style="text-align:justify;">A = V<strong><sub>0</sub></strong> – I<strong><sub>0</sub></strong>R</p>
<p style="text-align:justify;">jadi:</p>
<p style="text-align:justify;">v<strong><sub>c</sub></strong>(t) = (V<strong><sub>o</sub></strong> – I<strong><sub>o</sub></strong>R) e<strong><sup>-t/RC</sup></strong> + I<strong><sub>o</sub></strong>R</p>
<p style="text-align:justify;">Bila pada saat t=0 rangkaian listrik masih dipengaruhi oleh sumber arus/tegangan, maka respon yang dihasilkan berupa respon paksa.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-51.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1211" title="transient 5" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-51.jpg?w=614&#038;h=383" alt="" width="614" height="383" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1125&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/12/01/analisa-transien-rangkaian-rc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">transient 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">transient 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">transient 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">transient 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">transient 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">transient 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">transient 6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-14.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 14</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-15.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 15</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-16.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 16</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-17.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 17</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/first-order-18.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">first order 18</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/12/transient-51.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">transient 5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Contoh Soal : Analisa Mesh (bagian 2)</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/11/contoh-soal-analisa-mesh-bagian-2/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/11/contoh-soal-analisa-mesh-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 09:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[loop]]></category>
		<category><![CDATA[mesh]]></category>
		<category><![CDATA[super loop]]></category>
		<category><![CDATA[super mesh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1175</guid>
		<description><![CDATA[HItung nilai arus pada semua cabang serta nilai-nilai yang tertera pada rangkaian di bawah ini Ada tiga buah loop, masing-masing diberi nama i1, i2, dan i3. Arahnya dipilih secara acak. Seperti ditunjukkan pada gambar ini KVL pada loop i1 2i1 – 10 + 4i1 – 4i2 = 0 6i1 -4i2 = 10                                          persamaan 1 pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1175&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HItung nilai arus pada semua cabang serta nilai-nilai yang tertera pada rangkaian di bawah ini</p>
<p><span id="more-1175"></span></p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-13.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1176" title="analisa mesh 13" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-13.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Ada tiga buah loop, masing-masing diberi nama i<strong><sub>1</sub></strong>, i<strong><sub>2</sub></strong>, dan i<strong><sub>3</sub></strong>. Arahnya dipilih secara acak. Seperti ditunjukkan pada gambar ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-14.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1177" title="analisa mesh 14" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-14.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>KVL pada loop i<strong><sub>1</sub></strong></p>
<p>2i<strong><sub>1</sub></strong> – 10 + 4i<strong><sub>1</sub></strong> – 4i<strong><sub>2</sub></strong> = 0</p>
<p>6i<strong><sub>1</sub></strong> -4i<strong><sub>2</sub></strong> = 10                                          persamaan 1</p>
<p>pada loop i<strong><sub>2</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>2</sub></strong> = -3                                                     persamaan 2</p>
<p>pada loop i<strong><sub>3</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = -0.5vx</p>
<p>perhatikan vx ada di antara loop i<strong><sub>2</sub></strong> dan i<strong><sub>1</sub></strong>. Arah i<strong><sub>1</sub></strong> menyentuh tanda positif v<strong><sub>x</sub></strong> duluan, sedangkan i<strong><sub>2</sub></strong> menyentuh tanda negatif dari v<strong><sub>x</sub></strong> duluan. Maka</p>
<p>v<strong><sub>x</sub></strong> = (4Ω) (i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>2</sub></strong>) = 4i<strong><sub>1</sub></strong> – 4i<strong><sub>2</sub></strong>                             disubsitusikan</p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = -0.5 (4i<strong><sub>1</sub></strong> – 4i<strong><sub>2</sub></strong>)</p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = -2i<strong><sub>1</sub></strong> + 2i<strong><sub>2</sub></strong></p>
<p>-2i<strong><sub>1</sub></strong> + 2i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong> = 0                 persamaan 3</p>
<p>dari persamaan 1, 2 dan 3. diperoleh solusi</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = -0.33 A</p>
<p>i<strong><sub>2</sub></strong> =  -3A</p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = -5.34 A</p>
<p>v<strong><sub>b</sub></strong> = (2Ω) (i<strong><sub>1</sub></strong>) = (2) (-0.33) = -0.66V</p>
<p>v<strong><sub>x</sub></strong> = 4(i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>2</sub></strong>) = 4(-0.33 + 3)</p>
<p>v<strong><sub>x </sub></strong>= 10.68 V</p>
<p>Untuk menghitung v<strong><sub>a</sub></strong>, gunakan KVL pada loop i<strong><sub>3</sub></strong></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>4 + 10 + v<strong><sub>a</sub></strong> = 0</p>
<p>v<strong><sub>a </sub></strong>= -14 V</p>
<p>untuk menghitung v<strong><sub>c</sub></strong>, gunakan KVL pada loop i<strong><sub>2</sub></strong></p>
<p>-v<strong><sub>x</sub></strong> – 4 –v<strong><sub>c</sub></strong> = 0</p>
<p>v<strong><sub>c</sub></strong> = -10.68 – 4</p>
<p>v<strong><sub>c</sub></strong> = -14.68 V</p>
<p>i<strong><sub>4</sub></strong> = i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong> = -0.33 + 5.34 = 5.01A</p>
<p>i<strong><sub>5</sub></strong> = i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong> = -3 + 5.34 = 2.34 A</p>
<p>i<strong><sub>6</sub></strong> = i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>2</sub></strong> =-0.33 + 3 = 2.67 A</p>
<p>Hasilnya adalah seperti ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-15.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1178" title="analisa mesh 15" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-15.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>HItung nilai arus pada semua cabang serta nilai-nilai yang tertera pada rangkaian di bawah ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-16.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1179" title="analisa mesh 16" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-16.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Ada tiga buah loop, masing-masing diberi nama i<strong><sub>1</sub></strong>, i<strong><sub>2</sub></strong>, dan i<strong><sub>3</sub></strong>. Arah ketiga arus ini dipilih bebas.</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-17.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1180" title="analisa mesh 17" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-17.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>dari loop i<strong><sub>1</sub></strong> langsung diperoleh</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = -5                                     <strong>persamaan 1</strong></p>
<p>pada loop i<strong><sub>3</sub></strong> diperoleh</p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = 3i<strong><sub>x</sub></strong></p>
<p>dimana i<strong><sub>x</sub></strong> adalah arus pada cabang yang terletak antara i<strong><sub>2</sub></strong> dan i<strong><sub>3</sub></strong>.  i<strong><sub>x</sub></strong> searah dengan i<strong><sub>2</sub></strong> dan i<strong><sub>x</sub></strong> berlawanan arah dengan i<strong><sub>2</sub></strong>, maka</p>
<p>i<strong><sub>x</sub></strong> = i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = 3 (i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong>)</p>
<p>3i<strong><sub>2</sub></strong> = 4i<strong><sub>3</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = 0.75 i<strong><sub>2</sub></strong>                             <strong>persamaan 2</strong></p>
<p>KVL pada loop i<strong><sub>2</sub></strong></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-2v<strong><sub>x </sub></strong>+ 4i<strong><sub>2</sub></strong> – 4i<strong><sub>3</sub></strong> = 0</p>
<p>v<strong><sub>x</sub></strong> terletak antara i<strong><sub>2</sub></strong> dan i<strong><sub>3</sub></strong>. Arah i<strong><sub>1</sub></strong> masuk pada terminal negatif dan arah i3 masuk terminal positif, maka</p>
<p>v<strong><sub>x</sub></strong> = (i<strong><sub>3</sub></strong> – i<strong><sub>1</sub></strong>) 5</p>
<p>-2 (i<strong><sub>3</sub></strong> – i<strong><sub>1</sub></strong>) 5 + 4i<strong><sub>2</sub></strong> – 4i<strong><sub>3</sub></strong> = 0</p>
<p>-10i<strong><sub>3</sub></strong> + 10i<strong><sub>1</sub></strong> + 4i<strong><sub>2</sub></strong> – 4i<strong><sub>3</sub></strong> = 0</p>
<p>10i<strong><sub>1</sub></strong> + 4i<strong><sub>2</sub></strong> – 14i<strong><sub>3</sub></strong> = 0</p>
<p>-50 + 4i<strong><sub>2</sub></strong> – 14 (0.75i<strong><sub>2</sub></strong>) = 0</p>
<p>-50 + 4i2 – 10.5i2 = 0</p>
<p>-6.5i<strong><sub>2</sub></strong> = 50</p>
<p>i<strong><sub>2</sub></strong> = -7.69 A</p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = 0.75 (i<strong><sub>2</sub></strong>) = (0.75) (-7.69)</p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = -5.77 A</p>
<p>v<strong><sub>e</sub></strong> = i<strong><sub>3</sub></strong> (1Ω) = -5.77V</p>
<p>v<strong><sub>d</sub></strong> = i<strong><sub>x</sub></strong> (4Ω) = (i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong>)(4) = (-7.69 + 5.77) (4) = -7.68 V</p>
<p>v<strong><sub>x</sub></strong> = 5 (i<strong><sub>3</sub></strong> – i<strong><sub>1</sub></strong>) = 5 (-5.77 + 5) = -3.85 V</p>
<p>v<strong><sub>c</sub></strong> = (i<strong><sub>3</sub></strong> – i<strong><sub>1</sub></strong>) (2Ω) = 2 (-5.77 + 5) = -1.54 V</p>
<p>i<strong><sub>z</sub></strong> = i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>1</sub></strong> = -7.69 + 5= -2.69 A</p>
<p>i<strong><sub>x</sub></strong> = i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong> = -7.69 + 5.77 = -1.92 A</p>
<p>i<strong><sub>y</sub></strong> = i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong> = -5 + 5.77 = 0.77 A</p>
<p>KVL pada loop i<strong><sub>1</sub></strong></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-v<strong><sub>a</sub></strong> – v<strong><sub>x</sub></strong> – v<strong><sub>c</sub></strong> + 2v<strong><sub>x</sub></strong> =0</p>
<p>-v<strong><sub>a</sub></strong> + 3.85 + 1.54 + 2(-3.85)= 0</p>
<p>v<strong><sub>a</sub></strong> = -2.31 V</p>
<p>KVL pada loop terluar (sumber 5A, resistor 1Ω, dan sumber 3i<strong><sub>x</sub></strong>)</p>
<p>∑v = 0</p>
<p>v<strong><sub>e</sub></strong> – v<strong><sub>a</sub></strong> + v<strong><sub>b</sub></strong> = 0</p>
<p>-5.77 + 2.31 + v<strong><sub>b</sub></strong> = 0</p>
<p>v<strong><sub>b</sub></strong> = 3.46 V</p>
<p>Tentukan semua nilai-nilai yang ditunjukkan pada rangkaian ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-18.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1181" title="analisa mesh 18" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-18.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Ada 4 buah loop, maka kita beri nama i<strong><sub>1</sub></strong>, i<strong><sub>2</sub></strong>, i<strong><sub>3</sub></strong>, dan i<strong><sub>4</sub></strong> seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini (arahnya dipilih secara bebas)</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-19.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1182" title="analisa mesh 19" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-19.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Pada loop i<strong><sub>1</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = -3                                     <strong>persamaan 1</strong></p>
<p>KVL pada loop i<strong><sub>2</sub></strong></p>
<p>5i<strong><sub>2</sub></strong> + 4i<strong><sub>2</sub></strong> – 4i<strong><sub>3</sub></strong> + 10 = 0</p>
<p>9i<strong><sub>2</sub></strong> – 4i<strong><sub>3</sub></strong> = -10                      <strong>persamaan 2</strong></p>
<p>KVL super mesh pada loop gabungan i<strong><sub>3</sub></strong> dan i<strong><sub>4</sub></strong></p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-20.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1183" title="analisa mesh 20" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-20.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>4i<strong><sub>3</sub></strong> – 4i<strong><sub>2</sub></strong> – 5i<strong><sub>a</sub></strong> + i<strong><sub>4</sub></strong> – i<strong><sub>1</sub></strong> + 2i<strong><sub>4</sub></strong> = 0</p>
<p>-i<strong><sub>1</sub></strong> – 9i<strong><sub>2</sub></strong> + 4i<strong><sub>3</sub></strong> + 3i<strong><sub>4</sub></strong> = 0                                        <strong>persamaan 3</strong></p>
<p>KCL pada node 1</p>
<p>∑i<strong><sub>masuk </sub></strong>= ∑i<strong><sub>keluar</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>4</sub></strong> = 0.25v<strong><sub>a</sub></strong> + i<strong><sub>3</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>4</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong> = 0.25v<strong><sub>a</sub></strong>, dimana nilai v<strong><sub>a</sub></strong> adalah</p>
<p>v<strong><sub>a</sub></strong> = 1 (i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>4</sub></strong>)</p>
<p>i<strong><sub>4</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong> = 0.25(i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>4</sub></strong>)</p>
<p>0.25i<strong><sub>1</sub></strong> &#8211; 1.25i<strong><sub>4</sub></strong> + i<strong><sub>3</sub></strong> = 0                                        <strong>persamaan 4</strong></p>
<p>Solusi dari persamaan 1,2,3, dan 4 adalah</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = -3 A</p>
<p>i<strong><sub>2</sub></strong> = -3.19 A</p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = -4.67 A</p>
<p>i<strong><sub>4 </sub></strong>= -4.33 A</p>
<p>i<strong><sub>a</sub></strong> = i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>1</sub></strong> = -3.19 + 3 = -0.19 A</p>
<p>i<strong><sub>b</sub></strong> = i<strong><sub>3</sub></strong> – i<strong><sub>1</sub></strong> = -4.67 + 3 = -1.67 A</p>
<p>i<strong><sub>c </sub></strong>= i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>4</sub></strong> = -3 + 4.33 = 1.33A</p>
<p>i<strong><sub>d </sub></strong>= i<strong><sub>2 </sub></strong>– i<strong><sub>3</sub></strong> = -3.19 + 4.67 = 1.48  A</p>
<p>v<strong><sub>a </sub></strong>= i<strong><sub>c</sub></strong> (1Ω) = 1.33 (1) = 1.33 V</p>
<p>v<strong><sub>b</sub></strong> = i<strong><sub>d</sub></strong> (4Ω) = 1.48 (4) = 5.92 V</p>
<p>v<strong><sub>c</sub></strong> = -i<strong><sub>2</sub></strong> (5Ω) = 3.19 (5) = 15.95 V</p>
<p>v<strong><sub>d</sub></strong> = i<strong><sub>4</sub></strong> (2Ω) = 2 (-4.33) = -8.66 V</p>
<p>KVL pada loop i<strong><sub>4</sub></strong></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-v<strong><sub>f</sub></strong> + v<strong><sub>a</sub></strong> + v<strong><sub>d</sub></strong> = 0</p>
<p>-v<strong><sub>f</sub></strong>+ 1.33 – 8.66 = 0</p>
<p>v<strong><sub>f</sub></strong> = -7.33 V</p>
<p>KVL pada  loop terluar(sumber 3A, 5ohm, dan 2ohm)</p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-v<strong><sub>c</sub></strong> + v<strong><sub>e </sub></strong>+ v<strong><sub>d</sub></strong> = 0</p>
<p>-15.95 + v<strong><sub>e</sub></strong> – 8.66 = 0</p>
<p>v<strong><sub>e</sub></strong> = 24.61 V</p>
<p>Tentukan semua nilai-nilai arus dan teganagn yang tertera pada rangkaian di bawah ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-21.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1184" title="analisa mesh 21" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-21.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>loop i<strong><sub>1</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = 0.25v<strong><sub>z</sub></strong>,dimana nilai v<strong><sub>z</sub></strong> adalah</p>
<p>v<strong><sub>z</sub></strong> = (3Ω) (i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong>) = 3i<strong><sub>2</sub></strong> – 3i<strong><sub>3</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = 0.25 (3i<strong><sub>2</sub></strong> – 3i<strong><sub>3</sub></strong>)</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> – 0.75i<strong><sub>2</sub></strong> + 0.75i<strong><sub>3</sub></strong> = 0                       <strong>persamaan 1</strong></p>
<p>KVL loop i<strong><sub>3</sub></strong></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>3i<strong><sub>3</sub></strong> – 3i<strong><sub>2</sub></strong> + 2i<strong><sub>3</sub></strong> – 2i<strong><sub>1</sub></strong> + 4i<strong><sub>3</sub></strong> = 0</p>
<p>-2i<strong><sub>1</sub></strong> – 3i<strong><sub>2</sub></strong> + 9i<strong><sub>3</sub></strong> = 0                               <strong>persamaan 2</strong></p>
<p>KCL pada cabang antara sumber 5A dengan ground</p>
<p>-i<strong><sub>1</sub></strong> + i<strong><sub>2</sub></strong> = 5                                             <strong>persamaan 3</strong></p>
<p>Solusi untuk persamaan 1,2, dan 3 adalah</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = 3.75 A</p>
<p>i<strong><sub>2</sub></strong> = 8.75 A</p>
<p>i<strong><sub>3 </sub></strong>= 3.75 A</p>
<p>i<strong><sub>x</sub></strong> = i<strong><sub>2</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong> = 8.75 – 3.75</p>
<p>i<strong><sub>x</sub></strong> = 5A</p>
<p>i<strong><sub>y</sub></strong> = i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>3</sub></strong> = 3.75 – 3.75</p>
<p>i<strong><sub>y</sub></strong> = 0A</p>
<p>v<strong><sub>a</sub></strong> = i<strong><sub>y</sub></strong> (2Ω) = 5 (2) = 10V</p>
<p>v<strong><sub>b</sub></strong> = i<strong><sub>3</sub></strong> (4Ω) = (-1.25) (4) = -5V</p>
<p>v<strong><sub>z</sub></strong> = i<strong><sub>x</sub></strong> (3Ω) = 10 (3) = 30V</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Link terkait :</p>
<p>Menyelesaikan sistem persamaan linier dalam model matriks</p>
<p><em><strong>http://id.wikipedia.org/wiki/Aljabar_linear</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1175&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/11/contoh-soal-analisa-mesh-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-13.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 13</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-14.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 14</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-15.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 15</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-16.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 16</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-17.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 17</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-18.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 18</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-19.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 19</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-20.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 20</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 21</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Contoh Soal : Analisa Mesh (bagian 1)</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/contoh-soal-analisa-mesh-bagian-1/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/contoh-soal-analisa-mesh-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 08:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[analisa mesh]]></category>
		<category><![CDATA[KVL]]></category>
		<category><![CDATA[loop]]></category>
		<category><![CDATA[super loop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1159</guid>
		<description><![CDATA[HItung nilai arus pada semua cabang serta nilai-nilai yang tertera pada rangkaian di bawah ini Ada dua loop, masing-masing kita beri nama i1 dan i2, dan arahnya dapat dipilih secara acak, seperti pada gambar di bawah ini Terapkan KVL pada loop i1 : ∑v = 0 -5 + 2i1 + 10 + 1i1 – 1i2 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1159&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HItung nilai arus pada semua cabang serta nilai-nilai yang tertera pada rangkaian di bawah ini</p>
<p><span id="more-1159"></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-1.jpg"><img class="aligncenter" title="analisa mesh 1" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-1.jpg?w=551&#038;h=380" alt="" width="551" height="380" /></a></p>
<p>Ada dua loop, masing-masing kita beri nama i<strong><sub>1</sub></strong> dan i<strong><sub>2</sub></strong>, dan arahnya dapat dipilih secara acak, seperti pada gambar di bawah ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1161" title="analisa mesh 2" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-2.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Terapkan KVL pada loop i<strong><sub>1</sub></strong> :</p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-5 + 2i<strong><sub>1</sub></strong> + 10 + 1i<strong><sub>1</sub></strong> – 1i<strong><sub>2</sub></strong> = 0</p>
<p>3i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>2</sub></strong> = -5                                           persamaan 1</p>
<p>Terapkan KVL pada loop i<strong><sub>2</sub></strong></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>1i<strong><sub>2</sub></strong> – 1i<strong><sub>1</sub></strong> – 10 +4i<strong><sub>2</sub></strong> + 8 = 0</p>
<p>-i<strong><sub>1</sub></strong> + 5i<strong><sub>2</sub></strong> = 2                                           persamaan 2</p>
<p>Solusi dari persamaan 1 dan 2 menghasilkan</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = -1.64 A (negatif berarti kebalikan dari permisalan arah i<strong><sub>1</sub></strong> tadi)</p>
<p>i<strong><sub>2</sub></strong> = 0.071 A</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong><strong><sub>Ω</sub></strong> = i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>2</sub></strong> = -1.64 – 0.071 = -1.71 A</p>
<p>v<strong><sub>1</sub></strong> = (i<strong><sub>1</sub></strong>) (2Ω) = (-1.64) (2) = -3.29 V</p>
<p>v<strong><sub>2</sub></strong> = i<strong><sub>2</sub></strong> (4Ω) = (0.071)(4) = 0.284 V</p>
<p>v<strong><sub>3</sub></strong> = (i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>2</sub></strong>) (1Ω) = (-1.64 – 0.071) (1) = -1.71 V</p>
<p>Jadi, hasil akhirnya adalah seperti ini. Perhatikan arah arus dan polaritas tegangan jangan sampai terbalik. Pada gambar di bawah ini, ditunjukkan bahwa arah arus negatif adalah kebalikan arah arus positif,dan polaritas negatif adalah kebalikan polaritas positif.</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1162" title="analisa mesh 3" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-3.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>HItung nilai arus pada semua cabang serta nilai-nilai yang tertera pada rangkaian di bawah ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1163" title="analisa mesh 4" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-4.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Ada tiga buah loop, masing-masing kita beri nama i<strong><sub>1</sub></strong>, i<strong><sub>2</sub></strong>, dan i<strong><sub>3</sub></strong>. Dan arahnya dipilih secara acak, seperti ditunjukkan pada rangkaian di bwah ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1164" title="analisa mesh 5" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-5.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>kita terapkan KVL pada loop i<strong><sub>1</sub></strong></p>
<p>Karena ada sumber arus dipinggir, maka nilai i<strong><sub>1</sub></strong> langsung dapat ditentukan, yaitu</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = 5A                                                   persamaan 1</p>
<p>Lalu, kita ingin menerapkan KVL pada loop i<strong><sub>2</sub></strong> dan i<strong><sub>3</sub></strong>. Tetapi kita tidak bisa menggunakan KVL, karena ada sumber arus diantara loop i<strong><sub>2</sub></strong> dan i<strong><sub>3</sub></strong>. Karena variabel pada persamaan yang didapat dari KVL adalah tegangan (bukan arus), maka kita tidak tahu drop tegangan pada sumber 3A ini. Kita harus melakukan analisa mesh super. Yaitu menerapkan KVL pada loop gabungan i<strong><sub>2</sub></strong> dan<strong></strong>i<strong><sub>3</sub></strong>, kurang lebih seperti ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1165" title="analisa mesh 6" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-6.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Terapkan KVL pada mesh super (loop i<strong><sub>2</sub></strong> dan i<strong><sub>3</sub></strong>)</p>
<p>∑v = 0</p>
<p>1i<strong><sub>2</sub></strong> – 1i<strong><sub>1</sub></strong> + 2i<strong><sub>2</sub></strong> + 3i<strong><sub>3</sub></strong> = 0</p>
<p>-i<strong><sub>1</sub></strong> + 3i<strong><sub>2</sub></strong> + 3i<strong><sub>3</sub></strong> = 0                 persamaan 2</p>
<p>Ada tiga variabel, berarti minimal butuh 1 persamaan lagi. Yang didapat dari KCL pada titik beriikut ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1166" title="analisa mesh 7" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-7.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>KCL pada node 1</p>
<p>∑i<strong><sub>masuk</sub></strong> = ∑i<strong><sub>keluar</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>2</sub></strong> + 3 = i<strong><sub>3</sub></strong></p>
<p>-i<strong><sub>2</sub></strong> + i<strong><sub>3</sub></strong> = 3                                             persamaan 3</p>
<p>Dari ketiga persamaan di atas, kita peroleh solusi sebagai berikut</p>
<p>i<strong><sub>1 </sub></strong>= 5 A</p>
<p>i<strong><sub>2</sub></strong> = -0.67 A</p>
<p>i<strong><sub>3</sub></strong> = 2.33 A</p>
<p>i<strong><sub>4</sub></strong> = i<strong><sub>2</sub></strong> = -0.67 A</p>
<p>i<strong><sub>5</sub></strong> = i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>2</sub></strong> = 5 + 0.67 = 5.67 A</p>
<p>v<strong><sub>1</sub></strong> = i<strong><sub>5</sub></strong> (1Ω) = 5.67 (1) =5.67 V</p>
<p>v<strong><sub>2</sub></strong> = -(i<strong><sub>2</sub></strong>) (2Ω) = -(-0.67) (2) = 1.34V</p>
<p>v3 = -(i3) (3Ω) = -(2.33) (3) = -7V</p>
<p>Maka, hasil rangkaiannya adalah seperti ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1167" title="analisa mesh 9" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-9.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>HItung nilai arus pada semua cabang serta nilai-nilai yang tertera pada rangkaian di bawah ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1168" title="analisa mesh 10" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-10.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Ada dua buah loop, masing-masing diberi nama i<strong><sub>1</sub></strong> dan i<strong><sub>2</sub></strong>. Arahnya dipilih secara bebas. tetapi, karena ada sumber arus ditengah-tengahnaya, maka harus digunakan mesh super (gabungan loop i<strong><sub>1</sub></strong> dan i<strong><sub>2</sub></strong>)</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1169" title="analisa mesh 11" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-11.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>KVL pada mesh super</p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-10 +2i<strong><sub>1</sub></strong> +3i+ 4i<strong><sub>2</sub></strong> = 0</p>
<p>Dari gambar rangkaian di atas, diperoleh bahwa : i = i<strong><sub>1</sub></strong></p>
<p>-10 + 2i<strong><sub>1</sub></strong> + 3i<strong><sub>1</sub></strong> + 4i<strong><sub>2</sub></strong> = 0</p>
<p>5i<strong><sub>1</sub></strong> +4i<strong><sub>2</sub></strong> = 10                                         persamaan 1</p>
<p>KCL pada node 1</p>
<p>∑i<strong><sub>masuk</sub></strong> = ∑i<strong><sub>keluar</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> + 2 = i<strong><sub>2</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>2</sub></strong> = -2                                             persamaan 2</p>
<p>Dari persamaan  1 dan 2, diperoleh solusi</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = 0.22 A</p>
<p>i<strong><sub>2</sub></strong> = 2.22 A</p>
<p>3i = 3(i<strong><sub>1</sub></strong>) = 3(0.22) = 0.66 V</p>
<p>v<strong><sub>1</sub></strong> = (i<strong><sub>1</sub></strong>) (2Ω) = (0.22)(2) = 0.44 V</p>
<p>v<strong><sub>2 </sub></strong>= (i<strong><sub>2</sub></strong>) (4Ω) = (2.22) (4) = 8.88 V</p>
<p>Untuk menghitung v<strong><sub>3</sub></strong>:</p>
<p>KVL pada loop i<strong><sub>1</sub></strong></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-10 + v<strong><sub>1</sub></strong>+v<strong><sub>3</sub></strong> = 0</p>
<p>-10 + 0.44 + v<strong><sub>3</sub></strong> = 0</p>
<p>v<strong><sub>3</sub></strong> = 9.56V   atau</p>
<p>KVL pada loop i<strong><sub>2</sub></strong></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-v<strong><sub>3</sub></strong> + 3i + v<strong><sub>2</sub></strong> = 0</p>
<p>-v<strong><sub>3 </sub></strong>+ 0.66 + 8.88 = 0</p>
<p>v<strong><sub>3</sub></strong> = 9.56 V</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1170" title="analisa mesh 12" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-12.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1159&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/contoh-soal-analisa-mesh-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-9.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 9</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/analisa-mesh-12.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">analisa mesh 12</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pspice : Rangkaian Resistif (bagian 2)</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/pspice-rangkaian-resistif-bagian-2/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/pspice-rangkaian-resistif-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 08:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[arus]]></category>
		<category><![CDATA[dependen source]]></category>
		<category><![CDATA[pspice]]></category>
		<category><![CDATA[sumber tidak bebas]]></category>
		<category><![CDATA[tegangan]]></category>
		<category><![CDATA[terkontrol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1145</guid>
		<description><![CDATA[Rangkaian pembahasan sebelumnya hanya mengandung sumber-sumber yang independen. Sekarang, bagaimana apabila kita ingin mensimulasikan rangakaian listrik yang mempunyai sumber dependen (dependent source) ? Sebagaimana kita ketahui, ada empat macam/kemungkinan sumber dependen itu : Sumber tegangan dikontrol tegangan Sumber tegangan dikontrol arus Sumber arus dikontrol arus Sumber arus dikontrol tegangan Berikut ini contoh-contoh rangkaian yang akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1145&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Rangkaian pembahasan sebelumnya hanya mengandung sumber-sumber yang independen. Sekarang, bagaimana apabila kita ingin mensimulasikan rangakaian listrik yang mempunyai sumber dependen (dependent source) ?</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana kita ketahui, ada empat macam/kemungkinan sumber dependen itu :</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1145"></span></p>
<ol style="text-align:justify;" start="1">
<li>Sumber tegangan dikontrol tegangan</li>
<li>Sumber tegangan dikontrol arus</li>
<li>Sumber arus dikontrol arus</li>
<li>Sumber arus dikontrol tegangan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini contoh-contoh rangkaian yang akan mensimulasikan suatu rangkaian yang masing-masing mengandung keempat sumber dependen tersebut</p>
<ol style="text-align:justify;" start="1">
<li><strong>Sumber tegangan dikotrol tegangan</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Misalkan ada rangkaian seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-16.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1146" title="resistif PSPICE 16" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-16.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada rangkaian di atas, mengandung sumber tegangan dikontrol tegangan, kita menggunakan komponen ENOM yang simbolnya ditunjukkan seperti gambar di bawah ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-17.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1147" title="resistif PSPICE 17" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-17.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Cara “mengambil” variabel tegangan v<sub>x</sub> adalah dengan cara memparalelkan tegangan  pada 5 ohm diinputkan pada terminal ENOM yang sebelah kiri. Seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-18.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1148" title="resistif PSPICE 18" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-18.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Saat menggunakan sumber dependen, kemungkinan besar saat kita menghubungkan kawat antar komponen terjadi interseksi atau perpotongan antar kawat. Pastikan kawat yang berpotongan ini tidak terhubung satu sama lain. Kawat yang berpotongan/saling terhubung akan ditampilkan bentuk titik pada tempat terjadinya perpotongan. Berikut ini contoh <strong>SALAH </strong>yang kemungkinan anda lakukan saat menggunakan sumber dependen.</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-19.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1149" title="resistif PSPICE 19" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-19.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Terminal positif sisi input dari ENOM terhubung secara tepat pada terminal R2 yang sebelah kiri. Tetapi terminal yang negatif, terjadi kesalahan. Maksud hati kita ingin menghubungkan input terminal negatif <strong>ENOM</strong> pada terminal R2 sebelah kiri, tetapi pada contoh di atas, kita malah menghubungkannya pada terminal R1 yang sebelah atas (ada tanda titik yang dilingkari garis warna merah).</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita pastikan tidak ada kesalahan pada sambungan, kita masukkan nilai ENOM. Pada contoh di atas nilai ENOM adalah 3v<sub>x</sub>. Klik dua kali pada <strong>ENOM</strong>, lalu masukkan angka 3 pada kolom gain (Tips: klik pada gain, klik change display, pada pilihan what to display, pilih  <strong>both name and value</strong>, klik OK. Maka akan muncul tulisan <strong>GAIN=3</strong>).kita dapatkan</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-20.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1150" title="resistif PSPICE 20" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-20.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<ol style="text-align:justify;" start="2">
<li><strong>Sumber tegangan dikontrol arus</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Misal ada rangkaian seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice21.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1151" title="resistif PSPICE21" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice21.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Karena rangakian itu memiliki sumber tegangan dikontrol arus, kita gunakan komponen <strong>HNOM</strong>. Kita harus “mengambil” variabel arus i<sub>x</sub> dengan cara merangkai seri. Klik dua kali pada komponen <strong>HNOM</strong> , lalu masukkan gain sebesar 2. susunan Pada schematic nya adalah seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-22.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1152" title="resistif PSPICE 22" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-22.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<ol style="text-align:justify;" start="3">
<li><strong>Sumber arus dikontrol arus</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Misalkan ada rangkaian seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-23.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1153" title="resistif PSPICE 23" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-23.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Rangkaian di atas memiliki sumber arus dependen (dikontrol arus). Dalam schematic, sumber arus yang dikontrol arus adalah <strong>FNOM</strong>. Setelah kita memasukkannya pada schematic, masukkan gainnya sebesar 5. Dalam schematic, rangkaiannya seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;" start="4">
<li><strong>Sumber arus dikontrol tegangan</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Misalkan ada rangkaian seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-24.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1154" title="resistif PSPICE 24" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-24.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Rangkaian di atas memiliki sumber arus yang dikontrol tegangan. Dalam schematic, kita menggunakan komponen <strong>GNOM</strong>. Setelah kita memasukkannya  dalam schematic, kita masukkan gain sebesar 2.5. Beginilah cara merangkainya dalam schematic</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-25.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1155" title="resistif PSPICE 25" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-25.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1145&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/pspice-rangkaian-resistif-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-16.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 16</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-17.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 17</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-18.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 18</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-19.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 19</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-20.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 20</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-22.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 22</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-23.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 23</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-24.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 24</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-25.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 25</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pspice : Rangkaian Resistif (bagian 1)</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/pspice-rangkaian-resistif-bagian-1/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/pspice-rangkaian-resistif-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 07:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[analisa]]></category>
		<category><![CDATA[pspice]]></category>
		<category><![CDATA[resistif]]></category>
		<category><![CDATA[simulasi]]></category>
		<category><![CDATA[simulator]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1126</guid>
		<description><![CDATA[Dari berbagai macam analisa rangkaian listrik,metode ini adalah metode yang paling mudah, cepat, dan hasilnya akurat. Ya, analisa rangkaian menggunakan bantuan simulator komputer. Ada banyak program/softwere komputer yang bisa digunakan untuk mensimulasikan suatu rangkaian listrik seperti SPICE, PSPICE,  5spice,  Electronic Work Brench (EWB), bahkan program “hitung-hitungan” semacam Mathcad bisa digunakan untuk menganalisa rangkaian listrik.  PSPICE [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1126&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dari berbagai macam analisa rangkaian listrik,metode ini adalah metode yang paling mudah, cepat, dan hasilnya akurat. Ya, analisa rangkaian menggunakan bantuan simulator komputer. Ada banyak program/softwere komputer yang bisa digunakan untuk mensimulasikan suatu rangkaian listrik seperti SPICE, PSPICE,  5spice,  Electronic Work Brench (EWB), bahkan program “hitung-hitungan” semacam Mathcad bisa digunakan untuk menganalisa rangkaian listrik.</p>
<p style="text-align:justify;"> PSPICE adalah salah satu program simulator rangkaian listrik yang paling mudah untuk dipelajari dan digunakan. PSPICE adalah simulator berbasis gambar rangkaian, atau dengan kata lain, komponen-komponennya jelas dan tampak ada gambarnya. Berbeda dengan SPICE yang merupakan simulator rangkaian berbasis pemrograman. Dengan kata lain, gambar komponen-komponennya tidak tampak, karena menggunakan bahasa pemrograman tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1126"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Program PSPICE dapat anda download secara gratis pada link di bawah ini:</p>
<p style="text-align:justify;">http://www.eng.auburn.edu/~troppel/91pspstu.exe</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah anda download, instal pada komputer anda. Tetapi jangan lupa, pada saat proses instalasi, jangan lupa memberi centang pada opsi “Schematic”. Karena bila tidak dicentang, schematic nya tidak akan terinstal. Setelah anda selesai menginstal, klik start, all programs, PSPice Student, dan klik Schematic. Maka akan muncul tampilan seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1127" title="resistif PSPICE 1" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-1.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Langsung saja, pada bagian ini, kita akan mencoba mensimulasikan beberapa rangkaian resistif sederhana. Misalkan  ada rangkaian seperti ini. Hitunglah nilai i dan v</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1128" title="resistif PSPICE" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pertama-tama, kita harus memasukkan tiap-tiap komponen.</p>
<p style="text-align:justify;">Klik <strong>draw</strong>, pilih <strong>get new part.</strong> Atau tekan tombol <em>ctrl</em> dan <em>G</em>. Maka akan muncul dialog box seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1129" title="resistif PSPICE 2" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-2.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada list komponen, cari komponen r (resistor), lalu klik place, dan letakkan pada jendela windows disebelahnya dengan cara mengkliknya, seperti ditunjukkan seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1130" title="resistif PSPICE 3" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-3.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Klik dua kali, karena resistonya ada dua buah. Setelah itu masukkan sumber tegangan yang namanya <strong>VDC</strong> dengan cara yang sama. Sedangkan yang sumber arus bernama <strong>IDC</strong>. Jangan lupa, setiap kali mensimulasikan suatu rangkaian, selalu gunakan titik referensi. Pada list komponen, nama titik referensi itu adalah <strong>GND_ANALOG</strong> atau anda juga bisa memakai <strong>GND_EARTH</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Komponen Sumber Tegangan DC independen</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1131" title="resistif PSPICE 4" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-4.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Komponen sumber arus DC independen</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1132" title="resistif PSPICE 5" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-5.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">komponen GND_ANALOG</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1133" title="resistif PSPICE 6" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-6.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">komponen GND_EARTH</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1134" title="resistif PSPICE 7" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-7.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kelima komponen dimasukkan pada jendela windows tutup dialog box tersebut dengan cara mengklik close,  lalu klik view dan pilih fit. Sehingga tampak seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-8.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1135" title="resistif PSPICE 8" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-8.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu, susunlah rangkaian seperti rangkaian yang dimaksud. Untuk menggeser komponen, klik pada komponen itu, lalu drag pada tempat yang diinginkan. Sedangkan untuk memutar komponen dalam posisi vertikal atau horisontal adalah dengan mengklik rangkaian yang dimaksud lalu tekan tombol ctrl+r (perhatikan arah arus dan polaritas dari sumber).  Untuk menghubungkan antar komponen, gunakan wire yaitu dengan cara klik draw, pilih wire. Atau tekan tombol ctrl+w. Tatalah komponen-komponen tersebut hingga tampak seperti rangkaian di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1136" title="resistif PSPICE 9" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-9.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah anda selesai menata seperti tampak pada gambar di atas. Masukkan angka tiap-tiap komponen. Mulai dari sumber tegangan, klik dua kali pada sumber tegangan tersebut hingga muncul dialog box seperti  dan masukkan nilai 10 pada kolom DC = 10V. Seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini lalu klik OK:</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1137" title="resistif PSPICE 11" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-11.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Masukkan nilai-nilai pada komponen-komponen yang lain dengan cara yang sama hingga tampak seperti gambar di bawah ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1138" title="resistif PSPICE 12" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-12.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Karena kita ingin mengukur tegangan pada resistor R2 (1kΩ) dan arus yang mengaliri resistor R1 (500 Ω). Untuk mengukur tegangan, klik draw dan get new part dan pilih VIEWPOINT. Sedangkan untuk mengukur arus, pilih IPROBE.  Untuk mengukur tegangan pada resistor, kita harus mengukurnya pada dua titik (diantara kedua terminal R2), maka kita butuh dua buah VIEWPOINT. Untuk mengukur arus yang mengaliri R1, kita harus menempatkan IPROBE secara seri dengan R1. Lalu jalankan rangkaian tersebut dengan cara klik analysis dan pilih simulate atau tekan tombol F11. Maka, nilai-nilai yang akan kita cari akan muncul seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-13.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1139" title="resistif PSPICE 13" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-13.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dari hasil simulasi di atas, tegangan v adalah</p>
<p style="text-align:justify;">v = 1.003 kV &#8211; 10 = 993 V</p>
<p style="text-align:justify;">sedangkan i adalah</p>
<p style="text-align:justify;">i = 2.007 A</p>
<p style="text-align:justify;">Kelemahan dari iprobe ini, kita tidak bisa mengetahui arah dari arus. Pada kasus ini, kita tidak bisa tahu arah arus yang mengaliri R1  ke atas atau kebawah. Tetapi, kita bisa tahu nilai tegangan pada terminal “atas” dari R1 adalah 1.003 kV. Sedangkan terminal yang “bawah” dari R1 adalah 0V. Maka, sudah jelas arus mengalir dari tegangan yang lebih tinggi ke tegangan yang lebih rendah (arah arusnya ke bawah, dari titik 1.003 kV ke titik ground 0V).</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila anda ingin mengetahui nilai tegangan dan arus pada semua bagian rangkaian,anda tidak perlu repot-repot menggunakan banyak VIEWPOINT dan  IPROBE. Untuk melakukannya klik analysis, sorot pada displays result on schematic, pilih enable. Enable voltage display untuk melihat nilai-nilai tegangan pada semua node yang terdapat pada rangkaian. Sedangkan enable current display untuk menunjukkan nilai-nilai arus pada semua cabang yang terdapat pada rangkaian. Apabila rangkaian yang telah kita simulasikan tadi, arus dan tegangannya di buat enable, maka hasilnya adalah seperti ini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-14.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1140" title="resistif PSPICE 14" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-14.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Salah satu keuntungan menggunakan mode ini adalah kita dapat melihat arah arus pada rangkaian. Misalkan kita ingin meengetahui arah arus yang mengalir pada R1. Maka kita tinggal meng-klik angka 2.007 A yang dicetak biru, maka arah arusnya pun akan tampak seperti ini (anak panah berwarna merah):</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-15.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1141" title="resistif PSPICE 15" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-15.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1126&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/pspice-rangkaian-resistif-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-9.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 9</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-12.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-13.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 13</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-14.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 14</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/resistif-pspice-15.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">resistif PSPICE 15</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Analisa Node</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/analisa-node/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/analisa-node/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 06:37:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[KCL]]></category>
		<category><![CDATA[node]]></category>
		<category><![CDATA[super node]]></category>
		<category><![CDATA[titik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1109</guid>
		<description><![CDATA[Metode analisa titik tegangan digunakan untuk mendapatkan tegangan-tegangan yang tidak diketahui pada node-node dalam suatu rangkaian yang dinyatakan dalam persamaan KCL (Kirchhoff’s Current Law / hukum arus Kirchhoff).  Misalkan suatu rangkaian memiliki tiga buah node, maka seharusnya terdapat dua buah tegangan yang tidak diketahui nilainya (variabel) dan ada dua persamaan matematisnya, rangkaian yang memiliki sepuluh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1109&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Metode analisa titik tegangan digunakan untuk mendapatkan tegangan-tegangan yang tidak diketahui pada node-node dalam suatu rangkaian yang dinyatakan dalam persamaan KCL (Kirchhoff’s Current Law / hukum arus Kirchhoff).  Misalkan suatu rangkaian memiliki tiga buah node, maka seharusnya terdapat dua buah tegangan yang tidak diketahui nilainya (variabel) dan ada dua persamaan matematisnya, rangkaian yang memiliki sepuluh buah node, maka akan memiliki sembilan tegangan yang tidak diketahui nilainya dan ada sembilan persamaan, dan N buah node akan menghasilkan (N-1) tegangan yang tidak diketahui, dan butuh (N-1) buah persamaan matematis untuk mendapatkan nilai-nilai tegangan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1109"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1110" title="node 1" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-1.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat contoh pada gambar 3-1 a. Kita akan mendapatkan tiga buah node seperti yang ditegaskan pada gambar 3-1 b (gambar 3-1 a dan 3-1 b adalah sama) dan masing-masing nodenya diberi nomor. Karena tegangan merupakan nilai di antara dua titik, maka kita  harus memilih sebuah titik sebagai titik referensi. Titik yang lainnya didefinisikan terhadap titik referensi ini. Sehingga kita sekarang mempunyai (N-1) tegangan dari N buah node pada rangkaian itu. Kita memilih titik 3 sebagai referensi. Pilihlah titik yang paling banyak mempunyai cabang sebagai titik referensi. Tegangan antara node 1 dan titik referensi diberi nama v<strong><sub>1</sub></strong>, dan antara node 2 dengan referensi diberi nama v<strong><sub>2</sub></strong>. Kedua tegangan ini sudah cukup, dan tegangan diantara pasangan node yang lainnya dapat diturunkan dari variabel v<strong><sub>1</sub></strong> dan v<strong><sub>2</sub></strong>.  Contoh, tegangan antara node 1 terhadap node 2 adalah (v1 – v2). Tegangan v<strong><sub>1</sub></strong> dan v<strong><sub>2</sub></strong> beserta tanda referensi dan polaritasnya ditunjukkan pada gambar 3-1 c. Pada gambar ini juga, nilai-nilai resistansi pada rangkaian sudah diubah semuanya ke dalam nilai konduktansi (ingat G = 1/R).</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya rangkaian dapat disederhanakan menjadi 3-1 d dengan mengeliminasi polaritas dari v<strong><sub>1</sub></strong> dan v<strong><sub>2</sub></strong>. Dan titik referensinya juga diberi tanda. Dan tegangan-tegangan (v<strong><sub>1</sub></strong> dan v<strong><sub>2</sub></strong>) dipahami sebagai tegangan terhadap titik referensi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita menggunakan hukum arus Kirchhoff (KCL) pada node 1 dan 2. Kita mendapatkan persamaan dari : arus yang keluar pada suatu titik sama dengan arus yang masuk pada titik itu. Sehingga, pada node 1 diperoleh persamaan</p>
<p style="text-align:justify;">0.5 v<strong><sub>1</sub></strong> + 0.2 (v<strong><sub>1</sub></strong> – v<strong><sub>2</sub></strong>) = 3  disederhanakan menjadi</p>
<p style="text-align:justify;">0.7v<strong><sub>1</sub></strong> – 0.2 v<strong><sub>2</sub></strong> = 3                                               (persamaan 1)</p>
<p style="text-align:justify;">KCL Pada node 2, kita dapatkan persamaan</p>
<p style="text-align:justify;">v<strong><sub>2 </sub></strong>+ 0.2 (v<strong><sub>2</sub></strong> &#8211; v<strong><sub>1</sub></strong>) = 2</p>
<p style="text-align:justify;">-0.2 v<strong><sub>1</sub></strong> + 1.2 v<strong><sub>2</sub></strong> = 2                                             (persamaan 2)</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menyelesaikan persamaan 1 dan 2, kita akan mendapatkan nilai</p>
<p style="text-align:justify;">v<strong><sub>1 </sub></strong> = 5 V dan v<strong><sub>2</sub></strong> = 2.5 V</p>
<p style="text-align:justify;">Berarti tegangan antara node 1 dan node 2 adalah v<strong><sub>1 </sub></strong>- v<strong><sub>2</sub></strong> = 5 V – 2.5 v = 2.5 V.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah nilai-nilai tegangan ini diperoleh, maka kita dapat menghitung arus-arus pada rangkaian ini menggunakan hukum Ohm(I = V/R = V×G).  Misalkan arus yang melewati 0.5 Ʊ adalah</p>
<p style="text-align:justify;">I<strong><sub>0.5Ʊ</sub></strong> = (0.5) (v<strong><sub>1</sub></strong>)  = 0.5 (5) = 2.5 A</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1111" title="node 2" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-2.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, apabila node pada rangkaian ditambah satu lagi menjadi rangkaian gambar 3-2 a. Dan digambar ulang pada gambar 3-2 b,  sekarang kita terapkan KCL pada node 1 maka diperoleh persamaan</p>
<p style="text-align:justify;">3(v<strong><sub>1</sub></strong> – v<strong><sub>2</sub></strong>) + 4(v<strong><sub>1</sub></strong> – v<strong><sub>3</sub></strong>) – (-8) – (-3) = 0</p>
<p style="text-align:justify;">Disederhanakan menjadi</p>
<p style="text-align:justify;">7v<strong><sub>1</sub></strong> – 3v<strong><sub>2</sub></strong> – 4v<strong><sub>3</sub></strong> = -11                                         persamaan 3</p>
<p style="text-align:justify;">KCL pada node 2:</p>
<p style="text-align:justify;">3(v<strong><sub>2</sub></strong> – v<strong><sub>1</sub></strong>) + 1v<strong><sub>2 </sub></strong>+ 2(v<strong><sub>2</sub></strong>-v<strong><sub>3</sub></strong>) – 3 = 0 disederhanakan menjadi</p>
<p style="text-align:justify;">-3v1 + 6v2 – 2v3 = 3                                         persamaan 4</p>
<p style="text-align:justify;">KCL Pada node 3:</p>
<p style="text-align:justify;">4(v<strong><sub>3</sub></strong> – v<strong><sub>1</sub></strong>) + 2(v<strong><sub>3</sub></strong> – v<strong><sub>2</sub></strong>) + 5v<strong><sub>3</sub></strong> – 25 = 0           disederhanakan menjadi</p>
<p style="text-align:justify;">-4v<strong><sub>1</sub></strong> – 2v<strong><sub>2</sub></strong> + 11v<strong><sub>3</sub></strong> = 25                                      persamaan 5</p>
<p style="text-align:justify;">Persamaan 3 hingga 5 dapat diselesaikan menggunakan metode determinan, tentang aturan Cramer, diperoleh</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1112" title="node 3" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-3.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ekspansi pembilang dan penyebutnya (menghitung determinan dari minor), diperoleh</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1113" title="node 4" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-4.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan cara yang sama, kita bisa mendapatkan v<strong><sub>2</sub></strong> dan v<strong><sub>3</sub></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1114" title="node 5" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-5.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Cara lain, misal memakai eliminasi dan subsitusi akan memberikan hasil yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1115" title="node 6" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-6.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dari contoh-contoh sebelumnya, rangkaian yang kita analisa hanya berisi sumber arus saja. Contoh berikutnya adalah  pada gambar 3-3. Kita lihat rangkaian ini berisi sumber tegangan. Seperti pada contoh sebelumnya, kita ubah dulu nilai-nilai resistansi ke dalam bentuk konduktansi. Kita pilih sebuah titik referensi dan memberi nama masing-masing node terhadap titik referensi dengan nama v<strong><sub>1</sub></strong>, v<strong><sub>2</sub></strong>, dan v<strong><sub>3</sub></strong>. Langkah selanjutnya adalah menerapkan KCL pada node-node ini (node selain referensi).</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kita menerapkan KCL, kita pasti akan mengalami kesulitan saat menganalisa node 2 dan node 3, karena kita tidak tahu berapa nilai arus yang mengalir melewati sumber tegangan. Tidak mungkin kita menulis besaran arus dalam bentuk besaran tegangan (ingat bahwa sumber tegangan adalah sumber yang menghasilkan tegangan yang tidak dipengaruhi (independent) oleh arus).</p>
<p style="text-align:justify;">Ada dua cara untuk menyelesaikan permasalahan ini. Yang lebih sulit adalah saat menentukan arus yang mengalir pada sumber tegangan. Rngkaian ini dapat diselesaikan dengan menggunakan KCL sebanyak tiga kali lalu memakai hukum tegangan Kirchhoff (KVL) satu kali diantara node 2 dan 3, menghasilkan 4 besaran yang tidak diketahui dan empat persamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena dalam menggunakan analisa node kita hanya tertarik untuk memperhatikan node-node saja, maka kita harus menghindari cabang yang berisi sumber tegangan karena ini akan menimbulkan masalah. Cara untuk menghindarinya adalah dengan cara menganggap node 2 dan node 3 sebagai node tunggal, sehingga “gabungan” node 2 dan 3 ini disebut dengan node super. Hukum arus Kirchhoff (KCL) bisa diterapkan pada node super ini, kok bisa? Tentu saja bisa, apabila arus total yang meninggalkan node 2 adalah nol dan total arus yang meninggalkan node 3 adalah nol, maka total arus yang meninggalkan dua node totalnya akan sama dengan nol. Atau cara mudahnya adalah dengan menganggap sumber tegangan itu sebagai short circuit.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1116" title="node 7" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-7.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, sumber tegangan itu dianggap short circuit (gabungan dari node 2 dan node 3). Maka kita akan menemukan enam buah cabang yang terhubung ke node super ini (pada gambar 3-3, node super ditandai dengan lingkaran garis putus-putus yang melingkupi node 2 dan node 3). Kita terapkan KCL terhadap node super ini, maka didapatkan persamaan:</p>
<p style="text-align:justify;">3(v<strong><sub>2</sub></strong> – v<strong><sub>1</sub></strong>) – 3 + 4(v<strong><sub>3 </sub></strong>– v<strong><sub>1</sub></strong>) – 25 + 5v<strong><sub>3</sub></strong> + 1v<strong><sub>2</sub></strong> = 0                          disederhanakan menjadi</p>
<p style="text-align:justify;">-7v<strong><sub>1</sub></strong> + 4v<strong><sub>2</sub></strong> + 9v<strong><sub>3</sub></strong> = 28</p>
<p style="text-align:justify;">KCL pada node 1, kita dapatkan persamaan</p>
<p style="text-align:justify;">7v<strong><sub>1</sub></strong> – 3v<strong><sub>2</sub></strong> – 4v<strong><sub>3</sub></strong> = -11</p>
<p style="text-align:justify;">Kita butuh satu persamaan lagi karena kita mempunyai tiga variabel (v<strong><sub>1</sub></strong>, v<strong><sub>2</sub></strong>, dan v<strong><sub>3</sub></strong>). Persamaan tambahan ini didapat dari sumber tegangan 22 V berada di antara node 2 dan node 3, perhatikan terminal positif sumber menyentuh node 3, terminal negatif sumber menyentuh node 2, didapat persamaan</p>
<p style="text-align:justify;">v<strong><sub>3</sub></strong> – v<strong><sub>2</sub></strong> = 22          (persamaan ini tidak dipengaruhi/tidak mengandung konduktansi dan resistansi)</p>
<p style="text-align:justify;">Berarti kita telah mendapatkan tiga buah persamaan</p>
<p style="text-align:justify;">7v<strong><sub>1</sub></strong>          – 3v<strong><sub>2</sub></strong>      – 4v<strong><sub>3</sub></strong>      =             -11</p>
<p style="text-align:justify;">-7v<strong><sub>1</sub></strong>        + 4v<strong><sub>2</sub></strong>      + 9v<strong><sub>3</sub></strong>      =             28</p>
<p style="text-align:justify;">0v<strong><sub>1</sub></strong>          – v<strong><sub>2</sub></strong>        + v<strong><sub>3 </sub></strong>        =             22</p>
<p style="text-align:justify;">Menggunakan metode determinan, kita  mendapatkan nilai v<strong><sub>1</sub></strong> adalah</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dari ketiga soal di atas, semua rangkaian yang kita analisa berisi sumber-sumber yang independen. Contoh rangkaian pada gambar 3-4 adalah rangkaian yang berisi sumber dependen. Sumber dependen pada rangkaian itu adalah sumber tegangan yang dikontrol arus (v = i<strong><sub>x</sub></strong>/8). Langkah pertama adalah mengubah semua resistansi ke dalam konduktansi.  Kita lihat tegangan dependen pada rangkaian itu  adalah sama dengan i<strong><sub>x</sub></strong>/8, dimana i<strong><sub>x</sub></strong> adalah arus yang mengalir pada konduktansi 4 Ʊ. Setelah kita memilih sebuah titik referensi, maka ada tiga node yang tersisa, masing-masing diberi nama v<strong><sub>1</sub></strong>, v<strong><sub>2</sub></strong>, dan v<strong><sub>3</sub></strong>.  Saat akan menggunakan KCL pada masing-masing node, lagi-lagi kita tidak bisa melakukannya, karena kita tidak tahu berapa nilai arus yang mengalir pada sumber tegangan dependen tersebut. Maka kita anggap node 2 dan node 3 bergabung menjadi sebuah node super (supernode) dan menerapkan KCL pada supernode ini sehingga menghasilkan persamaan</p>
<p style="text-align:justify;">3(v<strong><sub>2</sub></strong> – v<strong><sub>1</sub></strong>) – 3 + 4(v<strong><sub>3</sub></strong> – v<strong><sub>1</sub></strong>) – 25 + 5v<strong><sub>3 </sub></strong>+ 1v<strong><sub>2</sub></strong> = 0          disederhanakan menjadi</p>
<p style="text-align:justify;">-7v<strong><sub>1</sub></strong> + 4v<strong><sub>2 </sub></strong>+ 9v<strong><sub>3 </sub></strong>= 28</p>
<p style="text-align:justify;">Menggunakan KCL pada node 1, meghasilkan persamaan</p>
<p style="text-align:justify;">7v<strong><sub>1</sub></strong> – 3v<strong><sub>2</sub></strong> – 4v<strong><sub>3</sub></strong> = -11</p>
<p style="text-align:justify;">Kita butuh satu persamaan lagi, kita dapatkan dari sumber dependen, karena terminal positif sumber menempel pada node v<strong><sub>3</sub></strong> dan yang negatif menempel pada node v<strong><sub>2</sub></strong>, diperoleh</p>
<p style="text-align:justify;">v<strong><sub>3</sub></strong> – v<strong><sub>2</sub></strong> = i<strong><sub>x</sub></strong>/8                                                                        persamaan 10</p>
<p style="text-align:justify;">Kita tahu, ix adalah arus yang mengalir pada konduktansi 4Ʊ yang terletak diantara node v<strong><sub>3</sub></strong> dan v<strong><sub>1</sub></strong>, perhatikan arah panah i<strong><sub>x</sub></strong>, masuk di v<strong><sub>3</sub></strong> dan keluar di v<strong><sub>1</sub></strong>, maka i<strong><sub>x</sub></strong> adalah (hukum Ohm: i = Gv)</p>
<p style="text-align:justify;">i<strong><sub>x</sub></strong> =  4(v<strong><sub>3</sub></strong> – v<strong><sub>1</sub></strong>) / 8               ,nilai i<strong><sub>x</sub></strong> kita subsitusikan ke persamaan 10, menjadi</p>
<p style="text-align:justify;">v<strong><sub>3</sub></strong> – v<strong><sub>2</sub></strong> = 4(v<strong><sub>3</sub></strong> – v<strong><sub>1</sub></strong>) / 8                      disederhanakan menjadi</p>
<p style="text-align:justify;">-0.5v<strong><sub>1</sub></strong> + v<strong><sub>2</sub></strong> – 0.5v<strong><sub>3</sub></strong> = 0</p>
<p style="text-align:justify;">Maka kita telah mendapatkan tiga buah persamaanƱΩ</p>
<p style="text-align:justify;">-7v<strong><sub>1</sub></strong>        + 4v<strong><sub>2</sub></strong>      + 9v<strong><sub>3</sub></strong>      =             28</p>
<p style="text-align:justify;">7v<strong><sub>1</sub></strong>          – 3v<strong><sub>2</sub></strong>      – 4v<strong><sub>3</sub></strong>      =             -11</p>
<p style="text-align:justify;">-0.5v<strong><sub>1</sub></strong>    + v<strong><sub>2</sub></strong>        – 0.5v<strong><sub>3</sub></strong> =             0</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai v<strong><sub>1</sub></strong> dapat diselesaikan menggunakan metode determinan</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai v<strong><sub>2</sub></strong> dan v<strong><sub>3</sub></strong> juga dihitung dengan cara yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka kesimpulan langkah-langkah dari metode ini adalah</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Buat rangkaian itu menjadi sederhana. Tentukan semua elemen dan sumber-sumbernya. Ubah semua nilai resistansi ke dalam nilai konduktansi.</li>
<li>Misalkan rangkaian itu mempunyai N buah node, pilih salah satu node sebagai referensi. Tips: pilih node yang paling banyak cabang yang menempel padanya sebagai node referensi.  Sementara node-node yang lain diberi nama v<strong><sub>1</sub></strong>, v<strong><sub>2</sub></strong>, &#8230;&#8230;,v<strong><sub>N-1</sub></strong>. Jangan lupa, tegangan pada node ini adalah nilai tegangan terhadap referensi.</li>
<li>Apabila rangkaian  yang dianalisa hanya memiliki sumber arus saja, maka gunakan KCL pada masing-masing nodenya. Hingga didapatkan persamaan dalam bentuk variabel v<strong><sub>1</sub></strong>, v<strong><sub>2</sub></strong>, &#8230;..v<strong><sub>N-1</sub></strong>.</li>
<li>Bila rangkaian memiliki sumber tegangan, maka anggap saja sumber tegangan itu short circuit. Tegangan yang dishort circuit ini merupakan node super. Terapkan KCL pada node super ini, sehingga didapatkan persamaan dalam variabel v<strong><sub>1</sub></strong>, v<strong><sub>2</sub></strong>, &#8230;&#8230;.,v<strong><sub>N-1</sub></strong>. Persamaan tambahan diperoleh dari masing-masing sumber tegangan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1109&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/09/10/analisa-node/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">node 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">node 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">node 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">node 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">node 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">node 6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/09/node-7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">node 7</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Contoh Soal : Hukum Kirchhoff</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/contoh-soal-hukum-kirchhoff-bagian-1/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/contoh-soal-hukum-kirchhoff-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 06:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[KCL]]></category>
		<category><![CDATA[Kirchhoff]]></category>
		<category><![CDATA[KVL]]></category>
		<category><![CDATA[soal RL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1091</guid>
		<description><![CDATA[Soal nomor 1 Hitunglah i dan tegangan pada resistor 8Ω karena ada sumber dependen, kita tentukan dulu nilai sumber ini vx = (5A) (10Ω) = 50 V Resistor 8 Ω dan 12 Ω adalah paralel Rp = 12 Ω&#124;&#124;8 Ω = 4.8 Ω gunakan KVL pada loop yang sebelah kanan ∑v = 0 -3vx + [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1091&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Soal nomor 1</strong></p>
<p>Hitunglah i dan tegangan pada resistor 8Ω</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1092" title="soal analisa1" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa1.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p><span id="more-1091"></span></p>
<p>karena ada sumber dependen, kita tentukan dulu nilai sumber ini</p>
<p>v<strong><sub>x</sub></strong> = (5A) (10Ω) = 50 V</p>
<p>Resistor 8 Ω dan 12 Ω adalah paralel</p>
<p>R<strong><sub>p</sub></strong> = 12 Ω||8 Ω = 4.8 Ω</p>
<p>gunakan KVL pada loop yang sebelah kanan</p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-3v<strong><sub>x</sub></strong> + i(20 + R<strong><sub>p</sub></strong>) = 0</p>
<p>-3(50) + i(20+4.8) = 0</p>
<p>-150 + 24.8 i = 0</p>
<p>i = 150/24.8 = 6.05 A</p>
<p>pembagi arus untuk mencari i<strong><sub>8</sub></strong><strong><sub>Ω</sub></strong></p>
<p>i<strong><sub>8Ω</sub></strong> = i × (12)/(12+8) = (6.05) (12) /(20) = 3.63 A</p>
<p>v<strong><sub>8Ω</sub></strong> = (3.63 A) (8 Ω) = 29.03 V</p>
<p><strong>Soal nomor 2</strong></p>
<p>Hitunglah dissipasi daya pada resistor resistor 20 ohm dan  drop tegangan pada semua resistor</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1093" title="soal analisa2" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa2.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>karena ada sumber dependen, tentukan dulu nilai sumber ini</p>
<p>v<strong><sub>y</sub></strong> = -(i) (25) = -25i</p>
<p>Gunakan KVL  pada loop i</p>
<p>∑v = 0</p>
<p>ikuti arah i (berlawanan arah jarum jam) dan perhatikan polaritas masing-masing komponen</p>
<p>i (20+25+10) – 5 – 2.5v<strong><sub>y</sub></strong>+ 20 = 0</p>
<p>55i + 15 – 2.5(-25i) = 0</p>
<p>55i + 15 + 62.5i = 0</p>
<p>117.5i = -15</p>
<p>i = &#8211; 15/117.5 = -0.13 A</p>
<p>Karena rangkaian ini seri, maka arus yang mengaliri semua komponen adalah sama, maka dissipasi daya pada resistor 20 ohm</p>
<p>P<strong><sub>20Ω</sub></strong> = i2 (20) = (0.13)<sup>2</sup> (20) = 0.338 W = 338 mW</p>
<p>v<strong><sub>20Ω</sub></strong> = (-0.13A) (20 Ω) = -2.6 V</p>
<p>v<strong><sub>25Ω</sub></strong> = (-0.13 A) (25 Ω) = -3.25 V</p>
<p>v<strong><sub>10Ω</sub></strong> = (-0.13 A) (10 Ω) = -1.3 V</p>
<p>maka rangkaiannya seperti ini (perhatikan polaritas tegangan tiap komponen dan arah arus)</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1094" title="soal analisa3" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa3.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p><strong>Soal nomor 3</strong></p>
<p>Hitunglah nilai i<strong><sub>1</sub></strong> dan drop tegangan pada masing-masing resistor!</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1095" title="soal analisa4" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa4.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Karena ada sumber dependen, tentukan dulu nilainya</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = i3Ω</p>
<p>Kita terapkan KCL pada node/titik terminal resistor 5 ohm yang bagian atas.</p>
<p>∑i = 0 (misalkan total arus yang keluar dari titik sama dengan nol ampere, berarti  jika ada arus yang arahnya masuk ke titik akan bernilai negatif)</p>
<p>8 + i<strong><sub>5</sub></strong><strong><sub>Ω</sub></strong> &#8211; 1.5 i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>3Ω</sub></strong> &#8211; 3 = 0</p>
<p>8 + i<strong><sub>5</sub></strong><strong><sub>Ω</sub></strong> &#8211; 1.5 i<strong><sub>1</sub></strong> – i<strong><sub>1</sub></strong> &#8211; 3 = 0</p>
<p>5 + i<strong><sub>5Ω</sub></strong> &#8211; 2.5i<strong><sub>1</sub></strong> = 0</p>
<p>i<strong><sub>5 </sub></strong>= 2.5i<strong><sub>1</sub></strong> – 5                         <strong>persamaan 1</strong></p>
<p>Gunakan KVL pada loop yang melingkupi resistor 5 ohm dan 3 ohm</p>
<p>∑v = 0</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1096" title="soal analisa5" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa5.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>3i1 + 5i5Ω = 0</p>
<p>i<strong><sub>5</sub></strong><strong><sub>Ω</sub></strong> = -0.6i1                           <strong>persamaan 2</strong></p>
<p>subsitusikan persamaan 2 ke persamaan 1</p>
<p>i<strong><sub>5Ω</sub></strong> = 2.5i1 – 5                      persamaan 1</p>
<p>-0.6i<strong><sub>1</sub></strong> = 2.5i<strong><sub>1</sub></strong> – 5</p>
<p>3.1i<strong><sub>1</sub></strong>= 5</p>
<p>i<strong><sub>1</sub></strong> = 5/3.1 = 1.61 A</p>
<p>i<strong><sub>5Ω</sub></strong> = -0.6i1 = -0.6(1.61A) = -0.97 A</p>
<p>Drop tegangan pada masing-masing resistor adalah</p>
<p>v<strong><sub>5Ω</sub></strong> = -(0.97A) (5 Ω) = -<strong>4.85</strong> V</p>
<p>tegangan pada 3 ohm? Seharusnya sama dengan tegangan pada 5 ohm, karena kedua resitor ini paralel.</p>
<p>Mari kita buktikan</p>
<p>v<strong><sub>3Ω</sub></strong> = (1.61 A) (3 Ω)= <strong>4.85 V</strong>  ternyata memang sama</p>
<p>Jadi, hasil akhirnya adalah seperti ini:</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1097" title="soal analisa6" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa6.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p><strong>Soal nomor 4</strong></p>
<p>Hitunglah drop tegangan pada setiap resistor</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1098" title="soal analisa7" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa7.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Kita terapkan KCL pada titik sambungan antara resistor 5 ohm dan 10 ohm:</p>
<p>∑i = 0 (misal yang masuk titik bertanda positif, yang keluar titik bertanda negatif)</p>
<p>i – 3.25i – i<strong><sub>10</sub></strong><strong><sub>Ω</sub></strong> = 0</p>
<p>i<strong><sub>10Ω</sub></strong> = -2.25i                         persamaan 3</p>
<p>Gunakan KVL</p>
<p>-30 + 5i + 10i<strong><sub>10Ω</sub></strong> + 15i = 0</p>
<p>20i +10i<strong><sub>10Ω</sub></strong> = 30</p>
<p>Subsitusikan persamaan 3 ke persamaan 4</p>
<p>20i + 10 (-2.25i) = 30</p>
<p>20i – 22.5i = 30</p>
<p>-2.5i = 30</p>
<p>i = 30/-2.5</p>
<p>i = -12 A</p>
<p>i<strong><sub>10Ω</sub></strong> = -2.25i                          persamaan 3</p>
<p>i<strong><sub>10Ω</sub></strong> = -2.25 (-12 A) = 27 A</p>
<p>v<strong><sub>5Ω</sub></strong> = (-12 A) (5 Ω) = -60 V</p>
<p>v<strong><sub>10Ω</sub></strong> = (27A) (10 Ω) = 270 V</p>
<p>v<strong><sub>15Ω</sub></strong> = (-12 A) (15 Ω) = -180 V</p>
<p>Maka, hasil rangkaiannya adalah seperti ini</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa8.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1099" title="soal analisa8" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa8.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Soal nomor 5</strong></p>
<p>Hitung drop tegangan pada semua resistor.</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1104" title="soal analisa9" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa9.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>Karena ada sumber dependen, tentukan dulu nilainya</p>
<p>v<strong><sub>z</sub></strong> = 4i<strong><sub>4Ω</sub></strong> atau i<strong><sub>4Ω</sub></strong> = v<strong><sub>z</sub></strong>/4 = 0.25 v<strong><sub>z</sub></strong></p>
<p>Terapkan KCL pada titik sambungan antara 4 Ω dan 12 Ω</p>
<p>∑i = 0 (misal total arus masuk adalah nol ampere, kalau ada arah arus yang keluar berarti bertanda negatif)</p>
<p>2 – i<strong><sub>4Ω</sub></strong> &#8211; 1.5v<strong><sub>z</sub></strong> – i<strong><sub>12Ω</sub></strong> = 0</p>
<p>2 – 0.25v<strong><sub>z</sub></strong> – 1.5v<strong><sub>z</sub></strong> – i<strong><sub>12Ω</sub></strong> = 0</p>
<p>i<strong><sub>12Ω </sub></strong>= 2 – 1.75v<strong><sub>z</sub></strong>                                  persamaan 5</p>
<p>Gunakan KVL pada loop yang melingkupi 4 ohm dan 12 ohm</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1105" title="soal analisa10" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa10.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>∑v = 0</p>
<p>-v<strong><sub>z </sub></strong>+ 12i<strong><sub>12Ω</sub></strong> + 8 (1.5v<strong><sub>z</sub></strong> + i<strong><sub>12Ω</sub></strong>) = 0</p>
<p>-v<strong><sub>z </sub></strong>+12i<strong><sub>12Ω </sub></strong>+ 12v<strong><sub>z </sub></strong>+ 8i<strong><sub>12Ω</sub></strong> = 0</p>
<p>11v<strong><sub>z </sub></strong>+ 20i<strong><sub>12Ω</sub></strong> = 0</p>
<p>i<strong><sub>12Ω</sub></strong> = -11v<strong><sub>z</sub></strong>/20</p>
<p>i<strong><sub>12Ω</sub></strong> = -0.55 v<strong><sub>z</sub></strong>                                      persamaan 6</p>
<p>Subsitusikan persamaan 6 kedalam persamaan 5</p>
<p>i<strong><sub>12Ω</sub></strong> = 2 – 1.75v<strong><sub>z</sub></strong>                                  persamaan 5</p>
<p>-0.55v<strong><sub>z</sub></strong> = 2 – 1.75v<strong><sub>z</sub></strong></p>
<p>1.2v<strong><sub>z</sub></strong> = 2</p>
<p>v<strong><sub>z </sub></strong>= 1.67 V = v4Ω</p>
<p>i<strong><sub>12Ω</sub></strong> = -0.55v<strong><sub>z</sub></strong> = -0.55 (1.67) = -0.92 A</p>
<p>i<strong><sub>4Ω</sub></strong> = 0.25v<strong><sub>z</sub></strong> = 0.25 (1.67) = 0.4175 A</p>
<p>i<strong><sub>8Ω</sub></strong> = i<strong><sub>12Ω </sub></strong>+ 1.5v<strong><sub>z</sub></strong> = -0.92 + 1.5(1.67) = 1.585 A</p>
<p>v<strong><sub>12Ω</sub></strong> = 12i<strong><sub>12Ω</sub></strong> = 12 (-0.92) = 11.04 V</p>
<p>v<strong><sub>8Ω</sub></strong> = 8i<strong><sub>8Ω</sub></strong> = 8 (1.585) = 12.68 V</p>
<p>Hasilnya ditunjukkan pada gambar berikut</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1106" title="soal analisa11" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa11.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1091/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1091/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1091/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1091/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1091/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1091/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1091/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1091/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1091/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1091/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1091/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1091/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1091/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1091/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1091&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/contoh-soal-hukum-kirchhoff-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa9.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa9</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/soal-analisa11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">soal analisa11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teorema Rangkaian Listrik (bagian 4)</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/teorema-rangkaian-listrik-bagian-4/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/teorema-rangkaian-listrik-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 06:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[daya maksimum]]></category>
		<category><![CDATA[teorema]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1063</guid>
		<description><![CDATA[Teorema transfer daya Maksimum Pada suatu penguat (amplifier) dan kebanyakan rangkaian komunikasi seperti pada receiver radio dan transmitter, seringkali kita menginginkan beban pada rangkaian itu menerima daya yang maksimum dari sumbernya. Teorema transfer daya maksimum menyatakan bahwa: Sebuah resistansi beban akan menerima daya maksimum dari suatu rangkaian ketika nilai resistansi beban itu tepat sama dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1063&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Teorema transfer daya Maksimum</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu penguat (amplifier) dan kebanyakan rangkaian komunikasi seperti pada receiver radio dan transmitter, seringkali kita menginginkan beban pada rangkaian itu menerima daya yang maksimum dari sumbernya.</p>
<p style="text-align:justify;">Teorema transfer daya maksimum menyatakan bahwa:</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1063"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sebuah resistansi beban akan menerima daya maksimum dari suatu rangkaian ketika nilai resistansi beban itu tepat sama dengan resistansi Thevenin (Norton) terlihat dari rangkaian itu.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pembuktian dari teorema transfer daya maksimum dapat dihitung dari rangkaian ekivalen Thevenin dan menggunakan beberapa teknik perhitungan kalkulus.</p>
<p style="text-align:justify;">Gambar C-1 ini menunjukkan rangkaian ekivalen Thevenin  (DC)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1064" title="daya max 12" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-12.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada gambar di atas, nilai-nilai dari E<strong><sub>Th</sub></strong> dan R<strong><sub>Th</sub></strong> adalah konstan. Oleh karena itu, daya yang ditransfer ke beban dapat dihitung sebagai fungsi persamaan resistansi beban seperti berikut ini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1065" title="daya max" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sesuai dalil yang anda dapatkan pada pelajaran kalkulus, daya  maksimum yang dikirim ke beban saat turunan pertama dari persamaan diatas sama dengan nol, dP<strong><sub>L</sub></strong> / dR<strong><sub>L</sub></strong> = 0</p>
<p style="text-align:justify;">Memakai aturan turunan untuk operasi pembagian, kita dapat menurunkan/mendiferensialkan dari persamaan daya diatas diturunkan terhadap resistansi beban,</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1066" title="daya max 2" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-2.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1067" title="daya max 3" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-3.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, karena turunan pertama harus sama dengan nol, maka penyebut dari persamaan di atas akan sama dengan nol (kalikan silang), dan karena E<strong><sub>Th</sub></strong> adalah konstan, kita dapatkan</p>
<p style="text-align:justify;">(R<strong><sub>L</sub></strong> + R<strong><sub>Th</sub></strong>) 2 – 2<strong><sub>RL</sub></strong> (R<strong><sub>L</sub></strong> + R<strong><sub>Th</sub></strong>) = 0</p>
<p style="text-align:justify;">Diuraikan</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1068" title="daya max 4" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-4.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dari pembuktian di atas, diketahui bahwa daya yang dikirim ke beban akan maksimum apabila resistansi dari beban itu besarnya sama dengan resistansi Thevenin (R<strong><sub>L</sub></strong> = R<strong><sub>Th</sub></strong>).</p>
<div id="attachment_1069" class="wp-caption aligncenter" style="width: 248px"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-13.jpg"><img class="size-full wp-image-1069" title="daya max 13" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-13.jpg?w=614" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">gambar 9-45 (a)</p></div>
<p style="text-align:center;">
<div id="attachment_1070" class="wp-caption aligncenter" style="width: 286px"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-14.jpg"><img class="size-full wp-image-1070" title="daya max 14" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-14.jpg?w=614" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">gambar 9-45 (b)</p></div>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;">Dari gambar 9-45, kita lihat bahwa suatu rangkaian yang telah disederhanakan menggunakan baik itu teorema Thevenin ataupun Norton, daya maksimum yang ditransfer  terjadi saat</p>
<p style="text-align:justify;">R<strong><sub>L</sub></strong> = R<strong><sub>Th</sub></strong> = R<strong><sub>N</sub></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mengacu pada gambar 9-45, persamaan untuk menghitung transfer daya ke beban adalah</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1071" title="daya max 5" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-5.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Disederhanakan menjadi</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1072" title="daya max 6" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-6.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan cara yang sama untuk rangkaian ekivalen Norton</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1073" title="daya max 7" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-7.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat kondisi daya maksimum (R<strong><sub>L</sub></strong> = R<strong><sub>Th</sub></strong> = R<strong><sub>N</sub></strong>),  disubsitusikan pada persamaan di atas, meghasilkan persamaan untuk menghitung transfer daya maksimum</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-8.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1074" title="daya max 8" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-8.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Contoh :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk rangkaian pada gambar dibawah ini, gambar grafik dari V<strong><sub>L</sub></strong>, I<strong><sub>L</sub></strong>, dan P<strong><sub>L</sub></strong> sebagai fungsi dari R<strong><sub>L</sub></strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-15.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1075" title="daya max 15" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-15.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kita harus menghitung dan memasukkannya ke dalam tabel dari berbagai nilai resistansi, R<strong><sub>L</sub></strong>. Lihat tabel di bawah. Nilai tegangan dan arus dapat dihitung dengan menggunakan aturan pembagi tegangan dan hukum Ohm. Daya P<strong><sub>L </sub></strong>untuk masing-masing resistansi dihitung dengan rumus P<strong><sub>L</sub></strong> = V<strong><sub>L </sub></strong>I<strong><sub>L</sub></strong>, atau dengan memakai persamaan 9-4.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-16.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1076" title="daya max 16" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-16.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dari data pada tabel di atas, dapat digambar plot pada grafik, dan hasilnya ditunjukkan pada gambar-gambar dibawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-17.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1077" title="daya max 17" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-17.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-18.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1078" title="daya max 18" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-18.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-19.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1079" title="daya max 19" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-19.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan grafik-grafik tersebut, walaupun tegangan pada beban meningkat karena meningkatnya nilai R<strong><sub>L</sub></strong>, namun daya yang dikirim ke beban akan maksimum saat R<strong><sub>L</sub></strong> = R<strong><sub>Th</sub></strong> = 5 Ω. Alasannya: apabila nilai R<strong><sub>L</sub></strong> meningkat, maka arus yang mengaliri beban itu semakin kecil tetapi tegangan  naik mengikuti nilai resistansi. Karena daya adalah hasil perkalian dari arus dan tegangan, maka dicari kombinasi perkalian dari tegangan dengan arus yang menghasilkan nilai (daya) maksimum.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Contoh lagi:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan gambar rangkaian di bawah ini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-20.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1080" title="daya max 20" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-20.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Hitunglah nilai dari resistansi beban yang dibutuhkan agar daya yang dikirim ke beban menjadi maksimum.</li>
<li>Hitung V<strong><sub>L</sub></strong>, I<strong><sub>L</sub></strong>, dan P<strong><sub>L</sub></strong> saat daya yang dikirim ke beban maksimum.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"> Untuk menentukan kondisi pengiriman daya maksimum, langkah pertama adalah menentukan rangkaian ekivalen Thevenin/Norton terhadap beban. Misal kita pilih menggunakan rangkaian ekivalen Thevenin. (Perhatikan bahwa nilai R<strong><sub>L</sub></strong> ini adalah dapat berubah-ubah dari 0 hingga 5kΩ, dalam dunia nyata, komponen ini disebut resistor variabel)</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah 1,2, dan 3: Setelah kita memindahkan resistor beban dari rangkaian asli, kita buat tegangannya nol (untuk sumber tegangan diganti short circuit, untuk sumber arus diganti open circuit), kita akan mendaptkan rangkaian seperti ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-21.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1081" title="daya max 21" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-21.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Langkah 4 : Resistansi Thevenin dari rangkaian itu adalah</p>
<p style="text-align:justify;">R<strong><sub>Th</sub></strong> = 6 kΩ || 2kΩ = 1.5 kΩ</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah 5: Selanjutnya adalah menghitung tegangan pada terminal tempat resistor beban (yang sudah dipindahkan). Anda bisa menggunakan beberapa analisa (seperti node, mesh, dsb) Tapi di sini kita akan memilih menggunakan teorema Superposisi untuk menghitung tegangan V<strong><sub>ab</sub></strong>. Gambar berikut ini adalah rangkaian saat sumber tegangan yang 15 V saja yang bekerja (sumber arusnya dimatikan dengan cara di open circuit).</p>
<p style="text-align:justify;">V<strong><sub>ab(1)</sub></strong> =  (15 V) × (2 kΩ) / (2kΩ + 6kΩ) = +3.75 V</p>
<p style="text-align:justify;">Gambar berikut ini adalah rangkaian saat sumber 5mA saja yang bekerja (sekarang giliran sumber tegangan yang dimatikan dengan cara diganti short circuit)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-22.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1082" title="daya max 22" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-22.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">V<strong><sub>ab(2)</sub></strong> = (5 mA) [ (2kΩ) (6kΩ) / (2kΩ+6kΩ) ] = +7.5 V</p>
<p style="text-align:justify;">Maka nilai tegangan Theveninnya adalah</p>
<p style="text-align:justify;">E<strong><sub>Th</sub></strong> = V<strong><sub>ab(1)</sub></strong> + V<strong><sub>ab(2) </sub></strong>= +3.75 V + 7.5 V = 11.25 V</p>
<p style="text-align:justify;">Rangkaian pengganti Theveninnya ditunjukkan pada gambar di bawah ini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-23.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1083" title="daya max 23" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-23.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Daya yang dikirim ke beban akan maksimum saat nilai R<strong><sub>L </sub></strong>= R<strong><sub>Th</sub></strong> = 1.5 kΩ</p>
<p style="text-align:justify;">kita pilih R<strong><sub>L</sub></strong> = 1.5 kΩ, maka kita akan lihat bahwa saat memilih R<strong><sub>L</sub></strong> = 1.5 kΩ ini, tegangan pada resistansi Thevenin (R<strong><sub>Th</sub></strong>)menjadi setengah dari tegangan thevenin (E<strong><sub>Th</sub></strong>), dan tegangan pada resistor beban  (R<strong><sub>L</sub></strong>) juga setengah dari teganagn Thevenin . Jadi, pada saat daya maksimum</p>
<p style="text-align:justify;">V<strong><sub>L </sub></strong>= E<strong><sub>Th</sub></strong> / 2 = 11.25 V / 2 = 5.625 V</p>
<p style="text-align:justify;">I<strong><sub>L</sub></strong> = 5.625 V / 1.5 kΩ = 3.750 mA</p>
<p style="text-align:justify;">Daya yang dikirim ke beban dapat dihitung</p>
<p style="text-align:justify;">P<strong><sub>L</sub></strong> = V<strong><sup>2</sup></strong>L / R<strong><sub>L</sub></strong> = (5.625 V)2 / 1.5 kΩ = 21.1 mW</p>
<p style="text-align:justify;">Atau daya juga dapat dihitung dengan  cara</p>
<p style="text-align:justify;">P<strong><sub>L </sub></strong>= I<strong><sup>2</sup></strong>L R<strong><sub>L </sub></strong>= (3.75 mA)<strong><sup>2</sup></strong> (1.5 kΩ) = 21.1 mW</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana kita ketahui, efisiensi adalah rasio dari daya output terhadap daya input:</p>
<p style="text-align:justify;">η = P<strong><sub>out </sub></strong>/ P<strong><sub>in</sub></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Atau dalam bentuk persentase</p>
<p style="text-align:justify;">η = (100%) × (P<strong><sub>out</sub></strong> / P<strong><sub>in</sub></strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menggunakan teorema transfer daya maksimum, kita lihat bahwa saat kondisi daya maksimum, efisiensi dari rangkaian itu adalah</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1084" title="daya max 9" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-9.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam rangakain telekomunikasi dan pada banyak rangkaian penguat (amplifier),  50% adalah presentase efisiensi maksimum yang mungkin untuk dicapai. pada level efisiensi ini, tegangan yang akan muncul bernilai setengah dari tegangan terminal maksimumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada transmisi daya seperti 115 Vac, 60 Hz seperti sistem listrik yang digunakan di rumah anda, kondisi daya maksimum tidaklah diperlukan (bahkan harus dihindari karena efisiensi maksimumnya  cuma 50%). Pad kondisi transfer daya maksimum, tegangan pada bebannya akan berkurang menjadi setengah dari tegangan terminal yang ada. Jelasnya, kalau kita menggunakan power supply (catu daya) yang digunakan pada peralatan listrik di rumah kita, kita harus membuat efisiensi sebisa mungkin mendekati 100%. Pada kondisi itu, resistansi R<strong><sub>L</sub></strong> dibuat lebih besar dari pada resistansi internal dari sumber tegangan (biasanya R<strong><sub>L</sub></strong> ≥ 10 R<strong><sub>int</sub></strong>), meyakinkan bahwa tegangan yang tampak pada beban akan sangat mendekati tegangan maksimum pada terminal dari sumber tegangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh berikut ini mengilustrasikan bagaimana power suply dibuat agar efisiensinya maksimum</p>
<p style="text-align:justify;">Gambar dibawah ini adalah rangkaian yang merepresentasikan sebuah power suply dc yang umum.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-24.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1085" title="daya max 24" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-24.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>tentukan nilai R<strong><sub>L</sub></strong> yang dibutuhkan agar transfer dayanya maksimum</li>
<li>hitung tegangan terminal V<strong><sub>L</sub></strong> dan efisiensinya saat nilai resistor R<strong><sub>L</sub></strong> = 50 Ω</li>
<li>hitunglah tegangan terminal V<strong><sub>L</sub></strong> dan efisiensinya saat nilai resistor beban R<strong><sub>L</sub></strong> = 100 Ω</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Solusi:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>agar transfer dayanya maksimum, resistor beban seharusnya R<strong><sub>L </sub></strong>= 0.05 Ω. Pada nilai resistansi ini, efisiensinya hanya 50%.</li>
<li>Untuk nilai R<strong><sub>L</sub></strong> = 50 Ω, tegangan yang tampak pada terminal output dari sumber tegangan itu adalah</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">V<strong><sub>L</sub></strong> = (9 V) (50Ω) / (50 Ω + 0.05 Ω) = 8.99 V</p>
<p style="text-align:justify;">Maka efisiensinya adalah</p>
<p style="text-align:justify;"> <a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1086" title="daya max 10" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-10.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<ol>
<li>Untuk nilai R<strong><sub>L</sub></strong> = 100 Ω, tegangan yang tampak pada terminal dari sumber tegangan adalah</li>
</ol>
<p>V<strong><sub>L</sub></strong> = (9 V) (100 Ω) / (100 Ω + 0.05 Ω) = 8.99550 V</p>
<p>Dan efisiensinya adalah</p>
<p><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1087" title="daya max 11" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-11.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">dari contoh di atas, kita lihat bahwa efisiensi adalah hal yang penting, begitu juga pada sistem transmisi daya, resistansi bebannya harus jauh lebih besar dari pada resistansi internal dari sumber tegangannya (niasanya R<strong><sub>L</sub></strong> ≥ 10 R<strong><sub>int</sub></strong>). Tetapi, untuk  menghasilkan transfer daya yang maksimum (bukan efisiensinya  yang maksimum) kita harus membuat nilai resistansi beban sama dengan resistansi internal dari sumber tegangan itu (R<strong><sub>L </sub></strong>= R<strong><sub>int</sub></strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1063/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1063&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/teorema-rangkaian-listrik-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-12.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-13.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 13</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-14.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 14</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-15.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 15</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-16.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 16</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-17.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 17</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-18.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 18</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-19.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 19</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-20.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 20</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-22.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 22</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-23.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 23</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-9.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 9</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-24.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 24</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/daya-max-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daya max 11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sistem Keamanan Listrik (bagian 5)</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/sistem-keamanan-listrik-bagian-5/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/sistem-keamanan-listrik-bagian-5/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 05:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[ammeter]]></category>
		<category><![CDATA[AVO]]></category>
		<category><![CDATA[multimeter]]></category>
		<category><![CDATA[ohmmeter]]></category>
		<category><![CDATA[vvoltmeter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1045</guid>
		<description><![CDATA[Penggunaan Alat ukur listrik yang aman Menggunakan alat ukur listrik secara aman dan efisien mungkin adalah suatu skil yang berharga bagi seorang teknisi elektronika, baik itu untuk keamanan bagi dirinya sendiri atau untuk kemampuan dalam bidang pekerjaannya. Kecerobohanadalah salah satu faktor penyebab kecelakaan bagi seorang teknisi. Alat ukur listrik yang paling umum digunakan adalah multimeter. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1045&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Penggunaan Alat ukur listrik yang aman</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menggunakan alat ukur listrik secara aman dan efisien mungkin adalah suatu skil yang berharga bagi seorang teknisi elektronika, baik itu untuk keamanan bagi dirinya sendiri atau untuk kemampuan dalam bidang pekerjaannya. Kecerobohanadalah salah satu faktor penyebab kecelakaan bagi seorang teknisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Alat ukur listrik yang paling umum digunakan adalah multimeter. Dinamakan multimeter karena kemampuannya untuk mengukur berbagai variabel besaran listrik seperti : tegangan, arus, resistansi, dan berbagai besaran lain, besaran lainnya tidak bisa dibahas di sini karena faktor kerumitan. Di tangan seorang teknisi yang terlatih, multimeter bisa menjadi suatu alat yang efisien dan alat yang aman. Di tangan seorang yang ceroboh, multimeter bisa menjadi sumber bahaya saat dihubungkan ke rangkaian yang sedang aktif.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1045"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ada berbagai macam multimeter yang dijual di pasaran, model yang dibuat pabrik memungkinkan tiap multimeter memiliki keistimewaan tertentu. Multimeter yang ditunjukkan gambar di bawah ini adalah disain yang umum, bukan produk merk tertentu, tetapi bentuk yang paling umum sesuai prinsip penggunaan dasarnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-19.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1046" title="electric safatey 19" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-19.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Multimeter yang anda lihat adalah yang jenis “digital” : karena tampilan angkanya menunjukkan angka numeris seperti pada jam digital. Tombol selektor yang dapat diputar-putar (pada gambar berada dalam posisi off) memiliki lima macam posisi pengukuran yang berbeda-beda dan dapat diset pada : dua pilihan “V”, dua pilihan “A”, dan satu tombol yang dilambangkan Ω adalah untuk mengukur resistansi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari dua pilihan “V” dan dua pilihan “A”, anda akan melihat masing-masing pasangan dibagi menjadi dua pasang yaitu huruf “V” yang bertanda garis bentuk gelombang naik turun, dan yang satunya huruf “V” yang bertanda sepasang garis sambung-putus. Begitu pula untuk huruf “A”, memiliki bentuk yang sama dengan “V”. Untuk simbol gelombang naik-turun, berarti ini digunakan untuk pengukuran listrik AC (alternating current) dan yang sepasang garis sambung-putus digunakan untuk mengukur listrik DC (direct current).</p>
<p style="text-align:justify;">Ada tiga soket berbeda pada tampilan depan multimeter dimana kita dapat mencolokkan kabel tes kita ke dalamnya. Kabel tes adalah kabel biasa yang digunakan untuk mengubungkan rangkaian yang diukur dengan multimeter. Kabel ini merupakan kawat yang dibungkus dengan kode warna (merah dan hitam) insulator yang fleksibel  untuk mencegah tangan kita menyentuh konduktor secara langsung, dan ujung dari masing-masing probe berbentuk lancip, terbentuk dari kawat yang kaku:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-20.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1047" title="electric safatey 20" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-20.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kabel tes warna hitam selalu dicolokkan ke dalam soket warna hitam pada multimeter: biasanya ditulis dengan nama “COM”  singkatan dari “common”. Kabel tes yang warna merah dicolokkan pada soket yang bertulisan voltage atau resistance, atau kabel warna merah dicolokkan pada arus, tergantung besaran listrik apa yang ingin kita ukur.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk melihat bagaimana multimeter bekerja, mari kita lihat pada sepasang contoh yang menunjukkan penggunaan dari multimeter. Pertama, kita akan mengeset meteran untuk mengukur tegangan DC dari baterai:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-21.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1048" title="electric safatey 21" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-21.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"> Perhatikan bahwa dua kabel tes dicolokkan pada soket yang sesuai, yaitu pengukuran tegangan (voltage), dan posisi tombol selektor telah diset menjadi DC “V”. Sekarang, kita akan melihat contoh penggunaan multimeter untuk mengukur tegangan AC dari stop kontak listrik pada peralatan listrik di rumah (soket pada tembok):</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-22.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1049" title="electric safatey 22" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-22.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaannya hanya pada posisi tombol selektor: sekarang  tombol selektor diarahkan menjadi AC “V”. Karena kita juga mengukur tegangan, kedua kabel tes diicolokkan pada soket yang sama pada multimeter (sama seperti saat mengukur tegangan DC). Dari kedua contoh ini, anda tidak boleh saling menempelkan kedua probe  (merah dan hitam) saat melakukan pengukuran tegangan pada dua titik dalam rangkaian yang aktif. Karena apabila hal ini anda lakukan, maka akan terjadi hubung singkat (short circuit), bahkan akan terjadi loncatan bunga api. Gambar berikut ini mengilustrasikan potensi bahayanya:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-23.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1050" title="electric safatey 23" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-23.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ini hanyalah salah satu bahaya yang ditimbulkan multimeter apabila digunakan secara tidak benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengukuran tegangan mungkin adalah salah satu tujuan penggunaan multimeter, pengukuran ini harus dilakukan secara aman, dan ini harus dipahami oleh pengguna multimeter. Tegangan selalu relatif terhadap dua titik, meteran harus terpasang secara pasti pada dua titik dalam suatu rangkaian agar menghasilkan pembacaan yang benar. Ini berarti kedua probe harus dipegang oleh tangan pengguna dan diletakkan pada titik yang tepat dalam rangkaian saat melakukan pengukuran.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena aliran listrik tangan ke tangan adalah yang paling berbahaya, memegang kedua probe meteran pada dua titiik yang bertegangan tinggi selalu ada potensi bahayanya. Bila pembungkus pelindung dari probe terlepas atau terkelupas, kemungkinan terjadi kontak langsung antara jari pengguna multimeter dengan konduktor, bisa ,menyebabkan sengatan listrik. Bila memungkinkan, gunakan hanya satu tangan saat melakukan pengukuran, ini adalah opsi yang lebih aman. Terkadang, memungkinkan bagi kita untuk menempelkan suatu probe pada rangkaian sehingga probe tersebut tidak perlu dipegang dan kita memegang probe yang lainnya dengan satu tangan. Aksesoris penjepit probe ini biasanya disertakan pada saat anda membeli multimeter.</p>
<p style="text-align:justify;"> Ingat bahwa kabel tes meteran adalah bagian dari paket peralatan multimeter, dan kabel ini harus benar-benar diperhatikan. BIla anda membutuhkan aksesoris khusus untuk kabel tes, seperti penjepit probe, periksa katalog produk dari pabrik multimeter itu. Jangan mencoba membuat kreasi sendiri saat mengetes probe, karena bisa membahayakan diri sendiri saat digunakan untuk mengukur rangkaian yang sedang aktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, yang perlu diingat adalah multimeter digital biasanya melakukan tindakan yang bagus yaitu dapat membedakan antara pengukuran AC atau DC. Seperti dijelaskan sebelumnya, baik itu tegangan DC ataupun AC bisa mematikan. Untuk keselamatan, periksa terlebih dahulu keberadaan AC dan DC. untuk melakukan pemeriksaan terhadap keberadaan tegangan berbahaya, anda harus mengukur semua pasangan titik-titik yang tidak diketahui itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh, misal anda membuka kabinet pengkabelan listrik untuk mencari tiga konduktor yang menyuplai daya AC kepada beban.   Circuit breaker pada rangkaian ini dalam kondisi terputus. Anda cek lagi tentang keberadaan daya listrik pada rangkaian itu dengan menekan tombol start pada beban. Ternyata memang tidak terjadi apa-apa, selanjutnya anda lakukan pengukuran tegangan menggunakan meteran.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, anda cek bahwa meteran anda bisa bekerja dengan baik. Caranya dengan mencoba mengukur tegangan AC pada suatu stop kontak. Setelah anda yakin bahwa meteran yang anda gunakan bekerja dengan baik, selanjutnya anda ukur tegangan diantara tiga kabel dalam kabinet ini.  Tetapi tegangan diukur diantara dua titik, jadi, dimana anda akan mengukur?</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-24.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1051" title="electric safatey 24" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-24.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya adalah dengan mengukur diantara semua kombinasi ketiga titik tersebut. Seperti yang anda lihat, ketiga titik itu diberi nama “A”, “B”, dan “C” pada gambar ilustrasi di atas. Sehingga anda harus mengeset multimeter anda ke dalam mode voltmeter dan melakukan pengecekan diantara titik A &amp; B, B &amp; C, dan A &amp; C. Bila anda menemukan nilai tegangan dari pengukuran ini, ini berarti rangkaian tersebut tidak berada dalam kondisi Zero Energy. Tetapi tunggu dulu! Ingat bahwa multimeter tidak akan mendeteksi tegangan DC apabila multimeter itu diset menggunakan mode tegangan AC (begitu juga sebaliknya), sehingga anda harus mengukur lagi pasangan ketiga titik itu masing-masing diukur dalam mode pengukuran tegangan DC, sehingga total ada enam kali pengukuran (3 pasang pengukuran tegangan AC, dan 3 pasang pengukuran tegangan DC).</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, setelah kita selesai mengukur semuanya, kita masih belum menemukan semua kemungkinan. Ingat bahwa bahaya tegangan bisa timbul di antara kawat tunggal dengan ground (pada kasus ini, kotak logam pembungkus kabinet akan menjadi titik referensi ground yang baik) pada suatu sistem tenaga listrik. Jadi, untuk keamanan yang sempurna, kita tidak hanya mengukur titik antara A &amp; B, B &amp; C, dan A &amp; C (dalam mode AC dan DC), tetapi anda juga harus mengukur tegangan antara titik A &amp; ground, B &amp; ground, serta C &amp; ground (baik itu dalam mode DC dan AC) Ini berarti terdapat total dua belas kali pengukuran untuk pengecekan secara keseluruhan dari skenario pengukuran tiga kawat. Setelah anda selesai melakukan pengukuran, anda harus melakukan tes ulang multimeter anda dengan mencoba pengukuran pada suatu stop kontak untuk memastikan bahwa multimeter masih dapat bekerja dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Menggunakan multimeter untuk megukur resistansi adalah pekerjaan yang lebih mudah. Kabel-kabel tes tetap dicolokkan pada soket yang sama seperti saat mengukur tegangan, tetapi tombol selektor harus diarahkan ke simbol resistansi yaiitu Ω (omega). Dengan menyentuhkan kedua probe pada suatu komponen yang akan diukur resistansinya, meteran ini akan menampilkan nilai resistansinya dalam ohm:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-25.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1052" title="electric safatey 25" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-25.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Yang perlu diperhatikan adalah saat mengukur resistansi, pengukuran ini harus dilakukan pada komponen yang tidak berenergi (tidak dialiri listrik). Ketika meteran dalam mode pengukuran resistansi, meteran ini menggunakan baterai internal untuk menghasilkan arus yang kecil melewati komponen yang akan diukur, dengan merasakan seberapa sulit arus ini melewati komponen itu, maka nilai resistansinya dapat dihitung dan ditampilkan pada display meterannya. Apabila ada sumber tegangan luar yang terhubung dengan komponen yang sedang kita ukur resistansinya, maka arus yang dihasilkan ohmmeter akan saling menolong atau saling melawan dengan arus yang dihasilkan dari sumber tegangan luar, akibatnya adalah kesalahan pembacaan. Namun dalam kondisi yang  paling buruk, multimeter mungkin saja bisa rusak karena tegangan eksternal tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mode resistansi dari multimeter berguna untuk menetukan kontinuitas dari suatu kawat, atau bisa juga digunakan untuk tes kepresisian dari pengukuran resistansi. Ketika kedua probe ditempelkan diantara konduktor solid yang bagus, maka meteran akan menunjukkan angka hampir 0 Ω. Bila diantara kabel tes tidak ada resistansinya sama sekali, hasil pembacaannya haruslah sama dengan 0 Ω tepat.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-26.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1053" title="electric safatey 26" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-26.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Apabila kabel tes tidak menyentuh satu sama lain. Atau ditempelkan pada suatu konduktor yang rusak, meteran akan menunjukkan resistansi yang sangat besar (biasanya ditampilkan garis putus-putus atau disingkat O.L yang berarti “open loop”):</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-27.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1054" title="electric safatey 27" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-27.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Penggunaan kompleks dan berbahaya dari multimeter adalah saat digunakan untuk mengukur arus. Alasannya sederhana : agar multimeter dapat megukur arus, arus yang diukur harus masuk melewati multimeter. Ini berarti meteran tersebut harus menjadi bagian dari jalur yang dilewati arus (tidak seperti saat mengukur tegangan yaitu hanya menempelkan probe di antara dua titik). Agar meteran tersebut menjadi bagian dari jalurnya arus, kita harus membuka rangkaian yang akan kita ukur arusnya dah menempatkan multimeter ke dalam (sambung seri) rangkaian itu. Untuk mengukur arus, tombol selektor harus diset pada “A” baik itu yang DC atau AC dan kabel tes yang warna merah harus dicolokkan pada soket yang bertanda “A”. Gambar ini akan mengilustrasikan bagaimana suatu meteran mengukur arus pada suatu rangkaian:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-28.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1055" title="electric safatey 28" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-28.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, rangkaian tersebut diputus dan meteran diletakkan di dalamnya:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-29.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1056" title="electric safatey 29" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-29.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-30.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1057" title="electric safatey 30" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-30.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Contoh pengukuran ini menunjukkan pengukuran rangkaian yang aman. Dengan sumber tegangan yang hanya 9 volt, maka tidak terlalu bahaya. Arus yang diukur nilainya kecil. Namun, dengan rangkaian yang memiliki daya yang lebih besar, ini bisa menjadi sangat berbahaya. Walaupun nilai tegangannya kecil, arus normal ini sudah cukup menghasilkan kilatan cahaya/loncatan bunga api sesaat yang berbahaya saat pengukuran dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Potensi bahaya yang lainnya adalah penggunaan multimeter saat dalam mode pengukuran arus (ammeter) lupa atau dengan ceroboh tidak diganti ke mode voltmeter saat akan melakukan pengukuran tegangan. Alasannya adalah disain mode ammeter berbeda dengan voltmeter. Saat anda melakukan pengukuran arus (dalam mode ammeter) maka nilai resistansi dalam dari ammeter adalah sangat kecil (supaya tidak mempengaruhi/menghalangi arus elektron yang mengalir pada rangkaian yang akan diukur).Inilah mengapa kita harus mencolokkan kabel tes pada soket yang berbeda saat akan melakukan pengukuran arus, karena soket “A” memiliki resistansi internal yang sangat rendah. Sedangkan soket “V” memiliki resistansi yang sangat besar sekali (idealnya R<strong><sub>internal</sub></strong> = ∞ Ω)</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika anda mengubah switch dari mode pengukuran arus- menjadi mode pengukuran tegangan, mungkin dengan mudah mengubah tombol selektor dari posisi “A” menjadi “V”, namun sering kali kita lupa memindah kabel tes warna merah dari soket “A” ke soket “V”. Hasilnya, saat meteran  ini dihubungkan ke suatu sumber tegangan, maka akan terjadi short circuit di dalam meteran tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-31.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1058" title="electric safatey 31" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-31.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menghindari masalah ini, beberapa meteran didisain akan mengeluarkan tanda bunyi apabila anda memilih tombol selektor pada pengukuran tegangan, namun kabel tes warna merah masih menancap di soket “A”.</p>
<p style="text-align:justify;">Multimeter yang bagus memiliki sekering (fuse) di dalamnya, yang bisa putus/meleleh saat kelebihan arus melewati meteran tersebut, seperti ilustrasi kondisi pada gambar di atas. Seperti semua alat pelindung kelebihan arus, sekering ini didisain untuk melindungi peralatan (multimeter) dari kerusakan, dan juga mellindungi si pemakai dari bahaya sengatan listrik. Sebuah multimeter dapat dicek sekering nya masih bekerja atau tidak dengan cara mengubah ke mode pengukuran resistansi  dan saling menempelkan kedua probe seperti gambar ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-32.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1059" title="electric safatey 32" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-32.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sekering yang bagus akan menunjukkan pembacaan nilai resistansi yang sangat kecil sekali sedangkan sekering yang sudah terbakar akan menunjukkan “O.L” (atau tanda apa saja yang menunjukkan ketidak kontinuan).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1045/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1045&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/sistem-keamanan-listrik-bagian-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-19.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 19</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-20.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 20</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-22.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 22</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-23.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 23</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-24.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 24</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-25.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 25</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-26.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 26</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-27.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 27</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-28.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 28</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-29.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 29</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-30.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 30</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-31.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 31</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-32.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 32</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sistem Keamanan Listrik (bagian 4)</title>
		<link>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/sistem-keamanan-listrik-bagian-4/</link>
		<comments>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/sistem-keamanan-listrik-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 04:06:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggapradana</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELEKTRO]]></category>
		<category><![CDATA[ground]]></category>
		<category><![CDATA[ground fault]]></category>
		<category><![CDATA[kesetrum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airlangga25.wordpress.com/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[Bahaya sumber-sumber listrik Tentu saja orang yang bekerja pada suatu rangkaian listrik memiliki resiko bahaya yang besar. Namun, bahaya sengatan listrik juga terdapat di tempat-tempat lainnya. Seperti pembahasan sebelumnya, kulit dan resistansi tubuh memiliki pengaruh yang relatif terhadap bahaya sengatan listrik. Semakin tinggi nilai resistansi tubuh, maka semakin kecil bahaya yang ditimbulkan arus listrik. Begitupula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1029&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Bahaya sumber-sumber listrik</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja orang yang bekerja pada suatu rangkaian listrik memiliki resiko bahaya yang besar. Namun, bahaya sengatan listrik juga terdapat di tempat-tempat lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti pembahasan sebelumnya, kulit dan resistansi tubuh memiliki pengaruh yang relatif terhadap bahaya sengatan listrik. Semakin tinggi nilai resistansi tubuh, maka semakin kecil bahaya yang ditimbulkan arus listrik. Begitupula sebaliknya, semakin rendah resistansi tubuh, maka semakin besar peluang cedera yang dihasilkan dari arus listrik yang mengalir pada tubuh kita.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1029"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Cara paling mudah untuk menurunkan resistansi tubuh kita adalah dengan membuatnya basah. Oleh karena itu, menyentuh peralatan listrik dengan tangan, kaki yang basah atau dalam kondisi berkeringat (air asin memiliki konduktivitas yang lebih tinggi dari pada air tawar) adalah berbahaya. Di dalam rumah, kamar mandi adalah salah satu tempat yang kemungkinan besar sesorang berada dalam kondisi basah saat menyentuh peralatan listrik, sehingga resiko bahaya sengatan listrik sangat besar. Disain kamar mandi yang baik adalah kamar mandi  dimana colokan listrik diletakkan jauh-jauh dari bak mandi, shower, dan menghindari penggunaan colokan listrik dari air. Telepon yang dicolokkan pada soket di tembok juga merupakan sumber tegangan yang berbahaya (tegangan open circuitnya adalah 48 V DC, dan sinyal dering telepon adalah 150 V AC – ingat-ingat bahwa tegangan di atas 30 V saja sudah berpotensi membahayakan. Peralatan seperti telepon dan radio jangan pernah digunakan saat berada di dalam bak mandi. Bahkan bateraipun jangan di dekatkan dengan air.</p>
<p style="text-align:justify;">Kolam renang adalah sumber bahaya lainnya, karena banyak orang menggunakan radio atau peralatan elektronik lainnya di dekat kolam renang. Organisasi The National Electrical Code menyarankan penggunaan stop kontak khusus dengan pendeteksi sengatan listrik yang disebut Ground-Fault Current Interrupting (GFI atau GFCI) dipasangkan dalam kondisi basah dan di luar ruangan untuk menghindari kecelakaan tersengat listrik. Alat khusus ini tak diragukan lagi telah menyelamatkan nyawa orang banyak sebagai alat pendeteksi yang cerdas.</p>
<p style="text-align:justify;">Kabel listrik, yang biasa dipakai di rumah-rumah dan industri, juga merupakan sumber bahaya. Semua kabel harus diperiksa secara berkala apabila terjadi pengikisan dan pengelupasan pada pelindung kabel. Satu metode untuk memindahkan kabel yang rusak adalah dengan cara melepasnya dari stop kontak , kemudian memotong colokannya (kabel “male”) dengan tang pemotong untuk memastikan tidak ada orang yang akan menggunakannya hingga selesai diperbaiki. Ini adalah hal penting di tempat kerja/perkantoran, di mana banyak orang menggunakan peralatan yang sama secara bergantian, dan kebanyakan dari mereka tidak peduli terhadap bahaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Peralatan listrik yang menunjukkan tanda-tanda permasalahan listrik harus diperbaiki dengan segera. Saya pernah mendengar beberapa cerita horor dari orang-orang yang tetap melanjutkan kerja dengan peralatan listrik yang bermasalah ini, dan kebanyakan dari mereka mengalami kesetrum. Ingat, listrik dapat membunuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Kabel transmisi listrik yang teruntai ke bawah berpotensi sebagai sumber bahaya kesetrum dan harus dihindari. Tegangan di antara kabel saluran transmisi atau antara kabel dengan ground bumi adalah sangat tinggi (2400 V adalah rating tegangan terendah yang digunakan pada sistem distribusi listrik). Bila kabel transmisi ini rusak dan konduktor logam ini terjatuh ke bawah bersentuhan dengan ground, akan dihasilkan suatu loncatan bunga api yang sangat hebat, sangat cukup untuk bisa mencongkel bebatuan atau bahkan aspal dari permukaan tanah. Apabila seseorang mengalami kontak langsung dengan kabel saluran transmisi yang terputus ini bisa dipastikan orang itu akan menemui ajalnya, tidak hanya itu, bahaya yang tersembunyi juga dihasilkan dari kejadian ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kabel bertegangan tinggi ini menyentuh ground, arus akan mengalir diantara konduktor yang terjatuh ini dengan titik grounding terdekat pada sistem tersebut, sehingga menghasilkan sebuah rangkaian seperti gambar berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1030" title="electric safatey 7" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-7.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Bumi atau tanah, menjadi konduktor (meskipun resistansinya besar), akan mengkonduksikan arus listrik diantara kabel yang terjatuh ini dengan titik grounding terdekat, biasanya titik grounding ini dibenamkan dalam tanah. Tanah memiliki konduktansi yang  lebih kecil daripada untaian kabel yang terjatuh ini, akan menciptakan tegangan drop substansial diantara titik kabel yang terputus dengan ground dan konduktor grounding, dan sedikit drop tegangan sepanjang kabel (nilai ini merupakan nilai perkiraan):</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-8.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1031" title="electric safatey 8" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-8.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Apabila jarak antara dua titik kontak ground (kabel yang terjatuh dengan sistem ground) berdekatan, akan tercipta tegangan drop substansial sepanjang jarak antara dua titik ini. Oleh karena itu, seseorang yang berdiri diatas tanah/ground diantara dua titik ini akan berada dalam kondisi yang berbahaya dan akan dialiri arus listrik melalui tegangan yang tercipta diantara kedua kakinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1032" title="electric safatey 9" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-9.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Lagi-lagi, nilai pada gambar di atas adalah nilai tegangan perkiraan. Tetapi tetap saja nilai tegangannya tinggi dan berbahaya. Dari ilustrasi ini dapat diketahui bahwa potensi bahaya sengatan listrik juga terjadi dari tempat-tempat yang tak terduga. Bahkan saat orang tersebut jelas-jelas tidak menyentuh kabel.</p>
<p style="text-align:justify;">Tindakan yang harus anda lakukan apabila melihat kabel listrik terputus dan terjatuh ke atas tanah adalah dengan melakukan kontak satu titik di atas tanah yaitu dengan berdiri menggunakan satu kaki, atau anda dapat berlari (ketika anda berlari, hanya satu kaki yang menyentuh tanah pada satu waktu). Saat anda berlari, kedua kaki anda tidak akan menyentuh tanah secara bersamaan sehingga anda tidak akan kesetrum.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Disain rangkaian yang aman</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti dijelaskan sebelumnya, suatu sistem listrik yang tidak dilindungi dengan ground bumi, faktor keselamatan pada rangkaian itu tidak bisa diprediksi. Dengan men-grounding salah satu sisi dari sumber tegangan pada rangkaian itu, maka setidaknya ada satu titik yang aman dan bebas dari ancaman sengatan listrik.Pada suatu sistem daya listrik sederhana yang menggunakan dua kawat  , konduktor yang terhubung dengan ground disebut neutral (netral), dan konduktor yang lain disebut “hot”, atau juga disebut live atau aktif:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1033" title="electric safatey 10" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-10.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menggunakan ground, maka bisa dijamin paling sedikitnya satu titik pada rangkaian itu yang aman untuk disentuh (0  V untuk ground).  Bagian “Hot” dari rangkaian itu, disebut demikian karena berpotensi terjadinya bahaya sengatan listrik, akan sangat berbahaya untuk disentuh kecuali rangkaian tersebut dilengkapi dengan pemutus rangkaian.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketidakseimbangan bahaya diantara dua konduktor pada rangkaian listrik sederhana adalah hal penting untuk dipelajari. Berikut ini akan diilustrasikan mengenai sistem pengkabelan peralatan listrik rumah tangga yang umum (dipilih contoh sumber tegangan DC agar lebih sederhana):</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kita perhatikan, peralatan listrik rumah tangga seperti pemanggang dengan casis logam konduktif, kita tidak mungkin bisa melihat bahaya kesetrum saat alat ini dinyalakan. Kawat yang mengkonduksikan listrik menuju elemen pemanas pada pemanggang ini diiisolasi dari sentuhan dengan casis logam (atau dengan kawat yang lainnya) dengan menggunakan plastik ataupun karet.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1034" title="electric safatey 11" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-11.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, apabila kawat-kawat yang berada dalam pemanggang ini secara tidak sengaja bersentuhan dengan casis logam, casis tersebut secara elektris akan menjadi common terhadap kawat, sehingga apabila anda menyentuh casis pemanggang sama bahayanya seperti memegang kawat dengan tangan kosong. Apakah ini akan menyebabkan sengatan listrik atau tidak, ini tergantung dari sentuhannya:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1035" title="electric safatey 12" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-12.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Bila kabel “hot” yang menyentuh casis, maka si  pemakai akan berada dalam bahaya saat memegang casis dari pemanggang. Namun, apabila yang menyentuh casis adalah kawat netral, maka hal ini tidaklah berbahaya.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-13.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1036" title="electric safatey 13" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-13.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk membantu memastikan bahwa kesalahan ini tidak mungkin terjadi, para insinyur mencoba untuk mendisain peralatan dimana kecil kemungkinannya kabel “hot” bersentuhan dengan casis suatu peralatan. Idealnya, tentu saja, anda tidak ingin kedua kawat (hot dan netral) bersentuhan dengan casis dari peralatan listrik. Tetapi pada prakteknya, ada satu cara untuk mendisain layout peralatan itu sehingga hanya satu kawat saja yang dijamin tidak akan bersentuhan dengan casis. Namun, metode pencegahan ini akan efektif hanya jika polaritas suplay dayanya tidak berubah-ubah. Bila polaritas dari sumber dayanya berubah-ubah, maka bisa saja yang bersentuhan dengan casis adalah kawat yang “hot”.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-14.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1037" title="electric safatey 14" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-14.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Peralatan yang didisain seperti ini biasanya menggunakan suplay daya yang polaritasnya tetap, salah satu terminal dari colokan/stekernya dibuat lebih sempit dari pada terminal yang satunya. Stop kontaknya juga didisain seperti ini, satu lubang (slot) dibuat sempit dari pada lubang yang lainnya. Sehingga, steker dari peralatan listrik ini tidak bisa dicolokkan pada stop kontak secara terbalik (hanya ada satu cara),sehingga identitas polaritas dari kawat di dalamnya tidak berubah. Disain ini tidak mempengaruhi fungsi dan kerja dari peralatan tersebut: disain ini semata-mata untuk faktor keselamatan. Cara lain yang lebih sederhana adalah membuat casis dari pelatan itu dari bahan isolator bahkan terkadang dibuat dobel isolator, sehingga apabila ada kawat yang tidak sengaja bersentuhan dengan casis, tidak akan membahayakan penggunanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun ada juga disain yang tetap menggunakan casis ayng bersifat konduktif, namun menggunakan konduktor ketiga yang dihubungkan ke ground:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-15.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1038" title="electric safatey 15" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-15.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Terminal ketiga dari steker peralatan listrik tersebut membuat casis dari peralatan tersebut terhubung langsung ke ground bumi, sehingga dua titik secara elektris common satu sama lain. Apabila common secara elektris, maka tidak mungkin ada tegangan diantaranya. Jadi, apabila konduktor yang “hot” bersentuhan dengan casis peralatan tersebut, maka akan terbentuk jalur short circuit menuju sumber tegangan itu melalui kawat ground, casis tersebut terlindung dari arus berlebih. Dan si pengguna akan selamat.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah mengapa, jangan sekali-sekali memotong terminal ketiga pada steker suatu peralatan listrik ketika anda mencoba memasukkan secara paksa ke stop kontak dengan dua slot. Bila ini dilakukan, tidak akan ada grounding pada peralatan itu yang digunakan untuk keselamatan si pemakai. Memang peralatan itu masih berfungsi sebagaimana mestinya, tetapi apabila ada kerusakan/kesalahan internal didalam peralatan itu, misalkan kawat “hot” menyentuh casis, maka akan berakibat fatal bagi si penggunanya. Apabila terminal tiga kaki ini mau tidak mau harus digunakan, maka gunakanlah adaptor stop kontak kaki tiga – ke – dua, sehingga sistem grounding untuk keselamatan si pemakai tetap terjamin.</p>
<p style="text-align:justify;">Teknik keselamatan listrik tidak hanya bertujuan untuk “mengamankan” bagian bebannya saja. Perlindungan diri (safeguard) terkahir yang digunakan untuk menghindari sengatan listrik dapat dirangkai dibagian power suply nya, bukan dibagian peralatannya itu sendiri. Perlindungan diri (safe guard) ini disebut dengan pendeteksi kesalahan ground (ground-fault detection), dan prinsip kerjanya seperti ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-16.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1039" title="electric safatey 16" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-16.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu peralatan listrik yang sedang digunakan (sepertii gambar di atas), arus yang terukur pada kawat “hot” harusnya sama dengan arus yang mengalir pada kawat netral, karena kedua kawat ini tersusun pada jalur yang sama (terangkai seri). Ketika tidak ada kesalahan di dalam peralatan itu, tidak akan ada sambungan diantara konduktor dengan si pemakai yang sedang memegang casis peralatan tersebut, sehingga si pemakai tidak kesetrum.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, apabila konduktor hot secara tidak sengaja bersentuhan dengan casis logam, akan ada aliran arus melewati orang yang sedang memegang casis tersebut. Keberadaan dari arus sengatan ini akan menimbulkan perbedaan nilai arus yang mengalir pada kawat hot dengan kawat netral dari stop kontak tersebut:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-17.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1040" title="electric safatey 17" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-17.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan arus pada kawat netral dengan hot ini akan terjadi hanya jika terdapat arus yang mengalir menuju sambungan ground, berarti terdapat kesalahan pada sistem. Oleh karena itu, perbedaan nilai arus ini akan diseteksi sebagai suatu kesalahan. Bila ini terjadi, pendeteksi ketidakseimbangan arus ini akan menjadi trigger dan memutuskan sambungan, rangkaian menjadi terbuka dan si pemakai terhindar dari sengatan listrik:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-18.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1041" title="electric safatey 18" src="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-18.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/airlangga25.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/airlangga25.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/airlangga25.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/airlangga25.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/airlangga25.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/airlangga25.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/airlangga25.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/airlangga25.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/airlangga25.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/airlangga25.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/airlangga25.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/airlangga25.wordpress.com/1029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/airlangga25.wordpress.com/1029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/airlangga25.wordpress.com/1029/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=airlangga25.wordpress.com&amp;blog=9684119&amp;post=1029&amp;subd=airlangga25&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airlangga25.wordpress.com/2011/08/29/sistem-keamanan-listrik-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6eb95fd4dbd05ec7ca34ccc67cb47a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggapradana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-9.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 9</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-12.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-13.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 13</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-14.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 14</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-15.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 15</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-16.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 16</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-17.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 17</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/electric-safatey-18.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">electric safatey 18</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
